Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, May 27, 2024

Doa, Kebijaksanaan Rohani, dan Kuasa Allah

Renungan dari Kitab Efesus 1:15-23

Surat Paulus kepada jemaat di Efesus adalah sebuah surat yang penuh dengan ajaran-ajaran tentang identitas dan panggilan orang percaya dalam Kristus, serta kekayaan karunia Allah yang tersedia bagi mereka. Dalam pasal pertama, Paulus mengekspresikan doanya bagi jemaat tersebut, dan ini adalah fokus dari ayat 15-23.

"Karena itu, aku juga sesudah aku mendengar tentang imanmu kepada Tuhan Yesus dan kasihmu kepada semua orang kudus, tidak henti-hentinya menyebut namamu dalam doaku." (Efesus 1:15-16)

Paulus memulai dengan menyatakan rasa syukurnya kepada Allah atas iman dan kasih jemaat Efesus terhadap Kristus dan sesama percaya. Doa Paulus untuk mereka tidak pernah berhenti, menunjukkan kepedulian dan kasihnya yang mendalam terhadap jemaat tersebut.

"Aku berdoa supaya Allah Tuhan kita, Bapa dari kemuliaan, mengaruniakan kepadamu Roh hikmat dan penerangan untuk mengenal Dia dengan lebih dalam." (Efesus 1:17)

Doa Paulus untuk jemaat Efesus adalah agar mereka diberi Roh Kudus dalam penuhnya, yang akan memberikan hikmat dan penerangan rohani bagi mereka. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pengenalan akan Allah adalah sesuatu yang diberikan oleh Roh Kudus, dan bahwa kita perlu bergantung sepenuhnya pada-Nya dalam pencarian kita akan kebenaran spiritual.

"Supaya kamu mengerti harapan yang dijanjikan-Nya, kekayaan kemuliaan warisan-Nya bagi orang kudus, dan kebesaran kuasa-Nya kepada kita yang percaya, menurut kekuatan kekuasaan-Nya yang bekerja dalam kita." (Efesus 1:18-19a)

Paulus berdoa agar jemaat Efesus dapat memahami harapan yang dijanjikan oleh Allah, kekayaan kemuliaan warisan-Nya bagi orang kudus, dan kebesaran kuasa-Nya yang bekerja dalam hidup mereka. Ini menekankan pentingnya pemahaman akan identitas dan panggilan kita sebagai anak-anak Allah, serta kekuatan yang tersedia bagi kita sebagai umat-Nya.

"Kekuatan yang bekerja dalam kita, kuasa yang dinyatakan dengan kekuatan-Nya yang megah, ketika Ia membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mengangkat Dia di sebelah kanan-Nya di surga." (Efesus 1:19b-20)

Paulus mengingatkan jemaat Efesus akan kekuatan Allah yang luar biasa yang telah dinyatakan dalam kebangkitan Kristus dan penempatannya di sebelah kanan Allah di surga. Ini adalah pengingat bahwa kita memiliki akses kepada kuasa yang sama yang telah mengangkat Kristus dari antara orang mati, dan bahwa Allah bekerja dengan kuasa-Nya yang megah dalam hidup kita.

"Di atas segala pemerintah dan penguasa, kekuasaan dan pemerintahan, dan di atas segala nama yang dapat disebutkan, bukan saja di dunia ini, tetapi juga di dunia yang akan datang." (Efesus 1:21)

Paulus menegaskan bahwa Kristus memiliki otoritas yang melampaui segala kekuasaan dan pemerintahan di dunia ini dan di dunia yang akan datang. Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Raja atas segala-galanya, dan bahwa kita sebagai umat-Nya memiliki kedudukan yang tinggi di dalam-Nya.

"Dan Allah menempatkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya dan menjadikan Dia kepala atas segala sesuatu bagi jemaat." (Efesus 1:22)

Paulus mengakhiri dengan menyatakan bahwa Allah telah menempatkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus dan menjadikan-Nya kepala atas segala sesuatu bagi jemaat-Nya. Ini adalah pengingat bahwa Kristus adalah kepala gereja, dan bahwa kita sebagai anggota tubuh-Nya harus tunduk dan patuh kepada-Nya.

Dari pemaparan tersebut, kita dapat mengeksplorasi beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Efesus 1:15-23:

  1. Kekuatan Doa: Doa adalah alat yang kuat dalam kehidupan seorang percaya. Seperti yang ditunjukkan oleh Paulus, kita harus berdoa tanpa henti untuk saudara seiman kita, meminta Roh Kudus untuk memberikan hikmat dan penerangan rohani kepada mereka.

  2. Pentingnya Pengenalan akan Allah: Pengetahuan dan pengenalan akan Allah adalah hal yang penting dalam hidup seorang percaya. Kita harus berusaha untuk memahami lebih dalam tentang harapan yang dijanjikan-Nya, kekayaan kemuliaan-Nya, dan kebesaran kuasa-Nya yang bekerja dalam hidup kita.

  3. Kekuatan Allah yang Bekerja dalam Kita: Allah memiliki kuasa yang luar biasa yang bekerja dalam hidup kita sebagai umat-Nya. Kita harus mengandalkan dan bergantung sepenuhnya pada kuasa-Nya yang megah, yang telah dinyatakan dalam kebangkitan Kristus.

  4. Kedudukan Kristus sebagai Kepala Gereja: Kristus adalah kepala gereja dan otoritas tertinggi dalam hidup kita sebagai umat-Nya. Kita harus tunduk dan patuh kepada-Nya dalam segala hal, karena segala sesuatu ditempatkan di bawah kaki-Nya.

Dengan merenungkan Efesus 1:15-23, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan kepada Kristus sebagai kepala gereja, memahami dan mengandalkan kuasa Allah yang bekerja dalam hidup kita, dan berdoa tanpa henti untuk pertumbuhan rohani saudara seiman kita. Semoga kita semua dapat hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak-anak Allah, dan menerima berkat-berkat yang telah Allah siapkan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Amin.

Waktu, Perubahan, dan Kebijaksanaan Allah

Kitab Pengkhotbah, adalah sebuah kitab yang mempertanyakan makna hidup dan mengeksplorasi tema-tema seperti kebijaksanaan, keadilan, dan ketaatan kepada Allah. Pasal 3:1-13 khususnya, membahas tentang waktu dan musim dalam hidup manusia.

"Maukah aku menggambarkan kepada kamu mengenai apa yang terjadi pada manusia di bawah matahari?" (Pengkhotbah 3:1a)

Penulis kitab ini memulai dengan pertanyaan retoris, mengundang kita untuk mempertimbangkan realitas hidup manusia di bawah matahari. Ini adalah pengantar untuk pemaparan tentang waktu dan musim dalam kehidupan manusia.

"A time to be born and a time to die, a time to plant and a time to uproot, a time to kill and a time to heal, a time to tear down and a time to build, a time to weep and a time to laugh, a time to mourn and a time to dance..." (Pengkhotbah 3:2-4)

Salomo menyajikan kontras antara berbagai musim dalam hidup manusia. Ada waktu-waktu yang membawa kegembiraan dan keberhasilan, sementara waktu lainnya diwarnai oleh kesedihan dan kegagalan. Ini mengingatkan kita bahwa hidup manusia adalah serangkaian musim yang berbeda-beda, dengan segala kegembiraan dan kesedihan yang datang dan pergi.

"...a time to scatter stones and a time to gather them, a time to embrace and a time to refrain from embracing, a time to search and a time to give up, a time to keep and a time to throw away..." (Pengkhotbah 3:5-6)

Selain itu, Salomo menyoroti tindakan-tindakan yang berlawanan yang dapat kita hadapi dalam hidup kita. Ada waktu untuk bertindak dan waktu untuk menahan diri. Ini menunjukkan bahwa kita harus bijaksana dalam mengenali waktu dan musim dalam hidup kita, dan bertindak sesuai dengan keadaan yang diberikan Allah.

"What do workers gain from their toil? I have seen the burden God has laid on the human race. He has made everything beautiful in its time. He has also set eternity in the human heart; yet no one can fathom what God has done from beginning to end." (Pengkhotbah 3:9-11)

Salomo merenungkan kebermaknaan hidup manusia dan upaya-upaya manusia dalam bekerja. Dia menyadari bahwa meskipun manusia bekerja keras, segala sesuatu tetap berada dalam kendali Allah. Allah telah mengatur segala sesuatu pada waktunya, dan Dia telah menanamkan keinginan akan kekekalan di dalam hati manusia. Namun, manusia tidak dapat sepenuhnya memahami rencana Allah yang agung.

"I know that there is nothing better for people than to be happy and to do good while they live. That each of them may eat and drink, and find satisfaction in all their toil—this is the gift of God." (Pengkhotbah 3:12-13)

Salomo menyimpulkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menemukan kebahagiaan dalam ketaatan kepada Allah dan melakukan kebaikan. Kita harus bersyukur atas segala berkat yang diberikan Allah kepada kita, termasuk kesenangan dalam pekerjaan kita, dan harus hidup dengan penuh kesadaran akan kebijaksanaan-Nya dalam mengatur segala sesuatu.

Dari pemaparan tersebut, kita dapat mengeksplorasi beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Pengkhotbah 3:1-13:

  1. Pemahaman tentang Waktu dan Musim: Hidup manusia adalah serangkaian musim yang berbeda-beda, dengan waktu untuk kegembiraan dan waktu untuk kesedihan. Kita harus belajar menerima dan menghargai setiap musim dalam hidup kita.

  2. Kebijaksanaan dalam Tindakan: Kita harus bijaksana dalam mengenali waktu dan musim dalam hidup kita, dan bertindak sesuai dengan keadaan yang diberikan Allah. Ini membutuhkan pengertian akan rencana Allah dan ketaatan kepada-Nya.

  3. Berkat dari Allah: Segala sesuatu yang kita miliki, termasuk kesenangan dalam pekerjaan kita, adalah berkat dari Allah. Kita harus bersyukur dan hidup dengan penuh kesadaran akan kebaikan dan kebijaksanaan-Nya.

  4. Ketidakmampuan Manusia: Meskipun kita berusaha memahami rencana Allah, kita tidak akan pernah sepenuhnya memahaminya. Allah adalah Sang Pencipta yang maha bijaksana, dan kita harus belajar untuk percaya kepada-Nya dalam segala hal.

Dengan merenungkan Pengkhotbah 3:1-13, kita dipanggil untuk menerima dan menghargai setiap musim dalam hidup kita, hidup dengan bijaksana sesuai dengan kehendak Allah, dan bersyukur atas segala berkat yang diberikan-Nya kepada kita. Semoga kita semua dapat hidup dengan penuh kesadaran akan kebijaksanaan dan kasih Allah dalam segala hal. Amin.

Kasih dan Kuasa Allah yang Menakjubkan

Mazmur 147 adalah sebuah pujian yang memuji Allah sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta serta Bapa yang penyayang terhadap umat-Nya. Dalam pasal ini, fokusnya terutama pada kebesaran dan kasih Allah terhadap Yerusalem, kota-Nya yang dipilih, dan umat-Nya yang setia.

Ayat 12-20 dari Mazmur 147 adalah suatu ungkapan syukur atas kasih dan perlindungan Allah terhadap Yerusalem dan umat-Nya. Mari kita telaah dengan lebih mendalam.

"Yerusalem, puji TUHAN, puji Allahmu, hai Sion!" (Mazmur 147:12)

Mazmur dimulai dengan seruan untuk memuji Tuhan, khususnya di dalam kota Yerusalem dan Sion. Yerusalem adalah tempat khusus di mana Allah memilih untuk menempatkan nama-Nya dan memelihara umat-Nya. Seruan untuk memuji Tuhan tidak hanya terbatas pada suatu tempat atau kota tertentu, tetapi merupakan panggilan bagi seluruh umat untuk memuliakan Allah di dalam segala hal.

"Sebab Dialah yang memperkuat kepalang pintu gerbangmu, yang memberkati anak-anakmu di tengah-tengahmu." (Mazmur 147:13)

Allah tidak hanya memelihara kota Yerusalem, tetapi juga memberikan perlindungan dan berkat kepada penduduknya. Dia adalah benteng yang kokoh di mana umat-Nya dapat berlindung. Ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak hanya memelihara kita secara keseluruhan, tetapi juga memberikan perlindungan dan berkat kepada kita secara pribadi.

"Yang mengadakan kedamaian di dalam segala sempadanmu, yang dengan lemak yang terbaik memenuhi engkau." (Mazmur 147:14)

Allah memberikan kedamaian dan kelimpahan kepada Yerusalem, memastikan bahwa kota itu aman dari serangan musuh dan diberkati dengan kelimpahan. Ini adalah gambaran dari berkat-berkat Allah yang melimpah bagi umat-Nya yang setia. Allah tidak hanya memenuhi kebutuhan kita, tetapi juga memberikan berkat berlebihan yang melimpah kepada kita.

"Allah menyampaikan firman-Nya kepada Yakub, peraturan dan ketetapan-Nya kepada Israel." (Mazmur 147:19)

Mazmur ini juga menegaskan bahwa Allah memberikan hukum-Nya kepada umat-Nya, memberi mereka petunjuk dan pedoman untuk hidup yang benar. Firman Allah adalah sumber kebijaksanaan dan kebenaran bagi umat-Nya, dan melalui firman-Nya, Dia memberikan petunjuk bagi mereka untuk hidup dalam ketaatan dan kebenaran.

"Tidaklah demikian bagi segala bangsa; mereka tidak mengenal ketetapan-Nya. Haleluya!" (Mazmur 147:20)

Mazmur ini menunjukkan bahwa bangsa-bangsa lain tidak memiliki akses kepada hukum dan perintah Allah seperti Israel. Allah telah memilih Yerusalem dan umat-Nya sebagai milik-Nya sendiri, dan Dia memberikan firman-Nya kepada mereka secara khusus. Ini menunjukkan kedudukan khusus umat Allah di mata-Nya, dan juga tanggung jawab yang mereka miliki sebagai pembawa kebenaran dan cahaya kepada bangsa-bangsa lain.

Dari pemaparan tersebut, kita dapat mengeksplorasi beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Mazmur 147:12-20:

  1. Panggilan untuk Memuji Tuhan: Seperti yang diungkapkan dalam ayat pertama Mazmur ini, kita semua dipanggil untuk memuji Tuhan dalam segala hal. Kehadiran-Nya dalam hidup kita patut disyukuri dan dimuliakan.

  2. Allah sebagai Pelindung dan Pemberkat: Allah adalah pelindung yang setia bagi umat-Nya. Dia memelihara, memberkati, dan memberikan kelimpahan kepada mereka yang setia kepada-Nya. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa kita dapat bergantung sepenuhnya pada Allah dalam segala hal.

  3. Kedudukan Khusus Umat Allah: Israel dipilih oleh Allah sebagai milik-Nya sendiri, dan Dia memberikan firman-Nya kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa umat Allah memiliki tanggung jawab khusus untuk hidup sesuai dengan firman-Nya dan menyebarkan kebenaran-Nya kepada bangsa-bangsa lain.

  4. Nilai Firman Allah: Firman Allah adalah sumber kebijaksanaan dan kebenaran bagi umat-Nya. Kita harus mencari dan memahami firman-Nya dengan sungguh-sungguh, dan hidup sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya.

Dengan merenungkan Mazmur 147:12-20, kita dipanggil untuk bersyukur atas kasih dan perlindungan Allah yang luar biasa, hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan memuliakan-Nya dalam segala hal. Semoga kita semua dapat hidup sesuai dengan panggilan-Nya dan menjadi saksi-saksi cahaya-Nya di dunia ini. Amin.

Friday, August 25, 2023

PASAMUWAN KANG NYAWIJI

Renungan Dalam rangka HUT RI ke-78 tahun dan HUT GKJ Sabda Winedhar ke-16 tahun

Bahan: Efesus 4:1-16 

Nyawiji adalah bentuk kata kerja dari kata sawiji yang artinya satunggal (satu), dengan demikian sawiji berarti menjadi satu atau menyatu. Jika kata sawiji ditambahkan kepada kata pasamuwan (jemaat) menjadi pasamuwan kang nyawiji berarti jemaat yang menyatu. Jemaat yang menjadi satu, menjadi satu dalam hal apa?  Yang pertama adalah menjadi satu dengan Tuhan karena jemaat lahir oleh karya penebusan Tuhan Yesus Kristus dimana orang-orang yang percaya kepadanya kemudian berusaha untuk menyatu dengan Kristus dalam usaha mengenal dan melakukan panggilanNya. Yang kedua, berusaha menyatu dengan sesama dalam hal ini sama-sama sebagai anggota gereja dan gereja di Tengah sesame yang berbeda dalam hal kepercayaan. Pertanyaan kemudian bagaimana agar kita senantiasa dimampukan menjadi pasamuwan kang nyawiji dengan Tuhan dan sesama?

Rasul Paulus yang pada waktu itu telah dipenjara karena mengabarkan Injil memberikan nasehat melalui surat kepada jemaat Efesus.

1)      Ayat 4:2 “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Untuk menjadi pasamuwan kang nyawiji maka sikap yang rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu harus dibangun dengan baik,

2)      Ayat 4:3-6 “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Untuk menjadi pasamuwan kang nyawiji maka kita harus berusaha belajar memahami kehendak Tuhan, selalu berusaha hidup dalam kehendaknya dan mau dibentuk oleh Tuhan dengan kuasa RohNya.

Kenapa kita harus melakukan itu semua?

Karena Tuhan Yesus telah memberikan kasih karuniaNya kepada kita. Menebus dosa kita dan bahkan memulihkan kondisi hidup kita sebagai manusia di hadapan Tuhan Allah. Selain itu Ia juga “memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” Bukankah sedemikian berharganya hidup kita? diberi sesuatu yang berharga. Selain pemberian yang berharga itu, kita juga dimampukan menjalani hidup dan panggilan sebagai pasamuwan kang nyawiji untuk bersama mempunyai pemahaman bahwa kita anak Allah, mencapai kedewasaan dan tumbuh ke arah kesempurnaan Kristus. Ringkasnya: Tata pasamuwan kang Nyawiji menjadi cerminan orang-orang pilihan Allah. Selain itu kita dikuatkan, karena iman dan hidup kita tidak aman-aman saja, seringkali kita diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.

Oleh karena itu untuk tetap menjadi pasamuwan kang nyawiji mari kita selalu melekat dengan Tuhan, belajar memahami kehendakNya, dan sekaligus mewujudkan panggilanNya melalui sikap rendah hati, lemah lembut, sabar dan penuh kasih satu dengan yang lain. Selamat merayakan hidup dan panggilan Tuhan. Amin

 


Tuesday, March 17, 2020

WABAH CORONA LAN PANAMPI KITA

Firman : Lukas 21:5-18
      Wekdal punika sesarengan kita badhe mawas diri kanthi nggatosaken pangandikanipun Gusti ingkang kula pendhetaken saking Injil Lukas 21:7-18 (Kawaos) dene ayat nats kula pendhetaken saking ayat 10 lan 11 (kawaos).
Para sedulur, dinten-dinten punika kita sami nampi pawartos saking TV, Media Sosial, internet lan sanes-sanesipun sesambetan kaliyan Virus Corona. Mboten namung sepisan, ananging saben dinten lan kanthi jumlah ingkang matikhel-tikhel cacahipun. 

Virus punika kapanggihaken wiwit ing kitha Wuhan-China pungkasan wulan desember 2019 lan sakpunika sampun sumebar ing saperangan ageng negari-negari ing donya punika kalaebet ing Indonesia. Malah kabar bab COVID-19 ngantos sepriki kacathet ing worldometer.com ingkang pejah sampun ngancik cacah 13,071 ewu langkung tiyang ing dinten Minggu tgl 20 maret 2020 jam 17.50 WIB.
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) punika virus ingkang nyerang sistem pernapasan. Penyakit amargi infeksi virus punika dening WHO sinebat COVID-19. Virus Corona punika njalari gangguan ing sistem pernapasan, pneumonia (radang paru-paru) akut, ngantos pejah. Virus punika saged nyerang sinten kemawon, wiwit bayi, lare, tiyang dewasa, para ibu ingkang ngandheg ngantos adiyuswa.

Saben kita saged katularan dening Covid-19 kanthi maneka werni cara inggih punika:
  • Tanpa sengaja kalebetan saking idunipun (ludah) tiyang sakit covid-19 ingkang nembe wahing utawi nalika watuk.
  • Nyekel lambe utawi irung tanpa wijik langkung rumiyin saksampunipun nyekel barang ingkang sampun kecipratan idunipun tiyang ingkang sakit COVID-19
  • Aben ajeng langsung lan celak kaliyan tiyang ingkang kenging COVID-19 umpaminipun salaman, ngambung pipi kiwa tengen, ngrangkul, lsp.

Awit perkawis punika, sawetawis negari kadosdene Filipina, China, Italia ngantos Denmark nutup negarinipun utawi ingkang sinebat Lock Down. Dene ing Indonesia, Presiden Joko widodo ngandikakaken dereng badhe ngawontenaken Lock Down, ananging nembe ngirangi kegiatan masyarakatipun mirungganipun ingkang kithanipun sampun wonten ingkang kenging penyakit Covid-19. Sedaya sami kaliburaken.
Amargi kawontenan ingkang mekaten punika, malah amargi kathahipun pawartos ingkang sesambetan perkawis Covid punika kathah tiyang ingkang sami ajrih, kuwatos, panik malah parno utawi paranoid ajrih kelangkung-langkung, mbokbilih kelebet kita ugi.
Para sedulur
Lajeng kadospundhi kita ngadhepi virus Covid-19 ingkang sampun sumeber ing jagad punika?

Ingkang sepisan, temtu kedah manut instruksi Lembaga Kesehatan dadosa WHO punapadene pamerintah ingkang sampun maringi cara-cara kadospundhi kita ngadhepi punika supados kita mboten gampil ketularan Virus Copid-19.

Ingkang kaping kalih, sambet ingkang kacariyosaken ing kitab Suci awit bab wabah penyakit sampun kaweca dening Gusti Yesus, badhe wonten ganti gumanti ing gesanging tiyang ing jaman akhir. Kados ingkang kaserat ing ayat 10-11 “Panjenengane banjur ngandika marang wong-wong mau: “Bakal ana bangsa kang nglawan padha bangsa, Karajan nglawan padha Karajan, lan bakal ana lindhu kang nggegirisi sarta ing kana kene bakal ana pageblug pes lan pailan, apadene bakal kalakon uga ana bab-bab kang ngagetake tuwin ilapat-ilapat kang nggegirisi saka ing langit.” Lukas 21:11 (BIS)  “di mana-mana akan terjadi gempa bumi yang hebat, bahaya kelaparan dan wabah penyakit.” Tegesipun perkawis wontenipun pageblug pes sampun kawartosaken dening Gusti Yesus dhumateng para murid nalika semanten kelebet kula lan panjenengan. Kita sampun nampi wartos lan kita sampun nampi kawontenan punika. Kanthi mekaten, menawi kita sampun nampi wartosipun mboten perlu gumunan lan kagetan kadosdene tiyang ingkang babar blas dereng mangertos.
Namung amargi kita sakpunika gesang ing jaman ingkang majeng lan canggih; punapa malih kita mboten asring maos pangandikanipun Gusti amargi ingkang kita cepeng namung HP lan njingglengi Medsos mila kadangkala kita lajeng kesupen pawartosipun Gusti Yesus. Temah panampi kita mboten wonten bedanipun kaliyan sanesipun. Ingkang ajrih, kuwatos, paranoid ajrih ingkang kalangkung-langkung.

Lajeng kadospundhi supados kita mboten sami kadosdene tiyang sanesipun? Kula mendhet ayat ingkang pungkasan ing bab punika, inggih punika ing ayat 19
  • “Manawa kowe padha tetep mantep, kowe bakal padha nampani uripmu”
  • terjemahan sederhana Bhs Ind. “Dengan tetap bertahan dalam kesusahan itu, maka kalian akan memperoleh hidup yang selama-lamanya.”
  • Versi Mudah Dibaca “Kamu akan menyelamatkan dirimu sendiri dengan tetap kuat di dalam imanmu melalui semua hal itu”

Tembung tetep mantep ing bausastra nggadahi teges 1) kukuh lan setya marang pasuwitan (panemu, lsp), 2) Wis tetep temenan, kc. Antep. Tembung punika ngengetaken dhateng kita bilih satunggaling cara ngadhepi virus covid-19 lan nampi pawartos ingkang kelangkung kathah inggih punika tetep mantep ing pitados lan keyakinan diri. Mantep ing pitados lan keyakinan diri punika satunggaling sikap ingkang positif ing gesang. Miturut penelitian ing Universitas Queensland dhateng saperangan tiyang dewasa ingkang umuripun 65-90 tahun. Manggihaken bilih Sikap positif nuwuhaken system kekebalan tubuh ingkang njalari gesang langkung panjang. Penelitian ingkang katindakaken watawis kalih tahun manggihaken bilih tiyang ingkang remen menggalih perkawis-perkawis ingkang sae lan maedahi (positif) langkung kiyat imunitas (system kekebalan tubuh) badanipun. Caranipun tiyang ingkang kateliti kasuwun nyawang sawetawis foto ingkang sae lan ingkang ala. Lajeng kasuwun ngenget-enget foto sepisanan ingkang dipunremeni. Nalika ngenget-enget punika,  fungsi kekebalan tubuh punika dipun ukur kaliyan piranti kangge ngukur tes darah.
"Peserta yang lebih banyak melihat gambar atau foto positif ketimbang negatif memiliki antibodi dalam darah yang menunjukkan sistem kekebalan tubuh mereka lebih kuat dibanding rekan-rekan mereka yang negatif," mekaten ingkang kaaturaken dening peneliti utama, Dr Elise Kalokerinos.
Kanthi mekaten, saben kita kedah budidaya mbangun diri ing sikap ingkang positif. Mantep ing pitados lan gesang badhe maedahi ing samudayanipun. Kados ingkang ingkang kapangandikaken dening Gusti Yesus “Manawa kowe padha tetep mantep, kowe bakal padha nampani uripmu”. Mugi kita tansah kasagedaken nglairaken manteping pitados lan keyakinan diri temah tansah kakiyataken ing sawernining perkawis ingkang kita adhepi. Gusti mberkahi. Amin.

Sunday, May 26, 2019

AJA MELANG-MELANG


YOKANAN 14:1-6

Melang-melang utawi sumelang (kuwatir) satunggaling raos ingkang kadangkala jumedul ing pangangen-angening manungsa. Raos melang-melang biasanipun jumedul amargi kita ngangen-angen perkawis ingkang dereng cetha lan ingkang badhe kelampahan nanging sampun nampi kabaripun sakpunika. Umpaminipun sumelang menawi mboten lulus ujian, sumelang menawi sakitipun mboten saged saras malih, sumelang menawi Indonesia bubrah, lsp.
Punapa jalaranipun tuwuh raos sumelang? Asring kita mirengaken tembung amargi “gawan bayi”, wiwit alit sampun nedahaken raos sumelang;wonten ingkang amargi tansah mboten nyakin dhateng dirinipun piyambak, wonten ingkang amargi kirang persiapan (pecawisan), wonten ingkang amargi asring “kebentus-kebentus” perkawis lajeng tuwuh pitakenan, “lha nek ngene terus sesuk banjur kepriye….”; lsp.
Kanthi mekaten kita kedah ngrumaosi lan ngakeni bilih raos sumelang utawi melang-melang punika peranganing gesang kita, ingkang baken kadospundhi caranipun supados raos melang-melang mboten jalari kita kepambeng lan lajeng mboten pitados dhateng pangrimat lan prasetyanipun Gusti.
Gusti Yesus paring pangandika (ayat 1) “Atimu aja melang-melang; padha kumandela ing Allah, iya kumandela ing Aku uga” kanthi pangandika mekaten, kita saged mangertos punapa ingkang dipungalih lan werdining pangandikanipun Gusti Yesus dhateng para murid nalika semanten. Para murid sami tuwuh raos sumelang amargi Gusti Yesus badhe nilar para murid, malah Gusti Yesus mboten kanthi gamblang ngandikakaken wonten ing pundhi papanipun panjenenganipun nilar para murid (ayat 36-38). Gusti Yesus ugi pirsa punapa ingkang badhe dipun adhepi dening para murid nalika nindakaken pakaryanipun Gusti dhateng jagad. Mila Panjenenganipun ngandika “Atimu aja melang-melang…..”  Gusti Yesus dhawuh supados sampun ngantos sumelang ananging ingkang perlu katindakaken namung setunggal inggih punika ”kumandela ing Allah, iya kumandela ing Aku uga”
Kinten-kinten punapa kanthi kumandhel dhateng Gusti Allah lan dhateng Gusti Yesus punika sampun cekap? Tumrap tiyang ingkang saestu pitados lan mitadosaken gesangipun dhateng Gusti Yesus minangka Juruwilujengipun, kedahipun sampun cekap, kenging punapa mekaten?
Amargi Gusti Yesus sampun ngandikakaken ing ayat salajengipun, inggih punika, ingkang sepisan, Gusti Allah ingkang sinebat Rama dening Gusti Yesus punika Rama ingkang kagungan papan ingkang dados papan pungkasaning gesang saben tiyang pitados. Papan ingkang Sang Rama piyambak mranata ing gesang kalanggengan (kados ingkang kaserat ing Kitab Wahyu 4:3, 9). Saestu namung  Gusti Allah ingkang sinebat Rama ingkang kagungan panguwaos ing jagad punika lan gesang kalanggengan.
 Ingkang kaping kalih, kados ingkang sinerat ing ayat 6 “….Aku iki dalane, sarta jatine kayekten lan  kauripan. Ora ono wong siji-sijia kang bisa sowan marang Sang Rama, Manawa ora metu ing Aku” Wangsulan punika wiwitanipun kapangandikakaken dhateng Thomas, ingkang nyuwun pirsa dhateng Gusti Yesus marginipun tumuju ing Sang Rama. Menawi wonten ingkang taken dhateng kita : “menawi badhe teng kitha Sragen….marginipun pundhi nggih?” Mesthi kita badhe mangsuli: panjenengan lewat joglo rumiyin lajeng saged nganan medal gemolong utawi lurus medhal mojosongo…..”
Ananging Gusti Yesus mboten mekaten, Panjenenganipun mboten maringi pitedah miturut pitedahipun manungsa, ananging panjenenganipun ngandikaken; ngetut-a Aku, Aku ngerti dalane, amarga ya Aku iki dalane; menawa kowe tetep percaya lan ora mlaku neng dalanmu dhewe nanging mlaku ing pitedahKu mesthi tekan daleme Sang Rama. Kanthi tembung sanes, sedaya ingkang sampun katedahaken lumantar tuladhanipun, piwulangipun lan pakaryan kawilujengan ingkang katindakaken ngantos seda sinalib punika marginipun tiyang pitados tumuju Sang Rama. Kita sami kasuwun sami nuladha lan nindakaken dhawuhipun Gusti minangka margi dhateng daleme Sang Rama.
Mila saben umat kagunganipun Gusti Yesus kedah saged nedahaken pitadosipun kanthi tegen mboten gampil kablidug ing panggodhaning jagad supados mboten gampil melang-melang, semanten ugi kedah saged nulad lan nindakaken sedaya pakaryanipun Gusti supados gesang ing kayekten lan nampi makthunaning gesang.
Sesambetan kaliyan timbalanipun Gusti marek ing mejaning pambujanan, kita sami mboten namung bab nedha sesarengan lan mengeti pangurbananipun Gusti, ananging ugi ngiyataken manah kita saha gesang miturut marginipun Gusti Yesus. Nuladha sedaya ingkang sampun katindakaken dening Panjenenganipun dhateng kita.
Awit saking punika sumangga, nalika wekdal cecawis punapa dene saksampunipun nampi Sakramen Bujono, kita sami nedahaken gesang ingkang manteb ing pitados lan miturut kersanipun Gusti. Temah kita tansah ngraosaken manah ingkang ayem (mboten melang-melang) lan ing tembenipun gesang sesarengan kaliyan Sang Rama ing Suwarga. Amin.

Wednesday, February 7, 2018

Amargi Iman

Ibrani 11:29-12:2


Ing tahun 1968 kawontenaken Olimpiade ing Mexico City.  Satunggaling cabang lomba ingkang kasebat Lari Marathon, wonten satunggaling Atlit ingkang saking Tanzania naminipun John Stephen Akhwari. Pelari punika ngantos sepriki dados inspirasi dening tiyang kathah. Punapa piyambakipun dados juara ing lomba Marathon punika?
Mboten babar pisan, piyambakipun mlebet ing Stadion lomba kemawon sampun rampung lombanipun.

Para juara sampun nampi kalung medali lan ingkang nonton wonten ingkang sampun sami wangsul. Ananging John Stephen tetep mlajeng tumuju ing garis finish, senajan kanthi suku kablebet lan kadangkala mlajengipun kanthi kedengklangan. 
Sukunipun tatu amargi nalika dumugi kilometer 19 saking 42 kilometer ingkang kedah dipunlampahi, piyambakipun dhawah. Sejatosipun panitia sampun menging supados mboten nglajengaken lomba, ananging kanthi tekad ingkang ageng piyambakipun tetep kepingin ngrampungaken lomba punika.
Nalika Akhwari dipuntakeni dening wartawan, kenging punapa tetep nglajengaken lomba kamangka sampun tatu sukunipun? Piyambakipun lajeng mangsuli : “Negaraku ora ngongkon aku kon mlayu 5000 mil thok, ananging aku kon ngrampungke lomba mlayu 5000 mil nganti rampung (finish). Akhwari mangertos tanggel jawabipun minangka atlit, piyambakipun ugi mangertos bilih tetandingan ingkang dipunlampahi punika mboten entheng lan mboten gampil, ananging kedah dipunlampahi ngantos rampung.  Senajan mboten dados juara lan nampi medali, ananging sampun ngrampungaken tanggel jawabipun ing salebeting dherek tetandingan.
Panyerat serat ibrani nggambaraken lelampahaning gesang tiyang pitados punika kadodene wonten ing tetandhingan olahraga. Gusti Allah ngutus kita supados purun nglampahi tetandhingan kadosdene atlit olahraga ngantos ngrampungaken tetandinganipun. Senajan kathah pacoben, rubeda, pepalang, ananging Gusti Allah ngersakaken supados kita tetep ngadhepi lan nindakaken tanggel jawabing iman ingkang sampun kaparingaken dhateng kita.
Mila supados para pitados anggenipun nglampahi tetandhingan iman ing jagad punika wonten tigang perkawis ingkang perlu dipungatosaken : ingkang sepisan,”…….mulane payo padha mbuwang sakebehing momotan sarta dosa kang tansah ngganggu-gawe kita….” Para pitados kadhawuhan supados purun sami nyingkiraken sedaya ingkang njalari raos kuwatos, sumelang, perkawis-perkawis ingkang njalari kendho ing gesang, semanten ugi kedah purun nyingkiraken panguwaosing dosa ingkang badhe nggeret kita ing karisakan. Kaping kalih, “kalawan mantep padha lumayu ing pabalapan kang kawajibake marang kita” tembung mantep nggadahi teges yakin lan tumemen. Kanthi mekaten anggenipun nglampahi pabalapan iman lan gesang kedah kinanthenan yakin, yakin bilih Gusti mbadhe mitulungi lan tumemen nglampahi sakderengipun wekdal tetandhinganipun rampung. Kaping tiganipun, kados ingkang kapangandikakaken ing ayat 2 sedaya ingkang katindakaken kinanthenan mandeng dhumateng Gusti Yesus, ngeneraken sedaya ingkang dipungalih, dipunangen-angen lan katindakaken ing kersanipun Gusti Allah.
Awit paseksining iman ingkang mekaten punika sampun katindakaken dening para tiyang-tyang pitados wiwit jaman Prajanjian lami ngantos dumugi prajanjian anyar (bab 11:29-40). Senajan kados ingkang kajlentrehaken ing ayat-ayat punika (29-40) nalika nindakaken timbalanipun Gusti, kathah rubeda lan pepalangipun ananging sedaya sami dipuntetepi kanthi kebak ing pangajeng-ajeng. Senajan ngantos wonten ingkang dipunsengiti, dipun ajengaken ing pangadilan, dipunaniaya, dipunkunjara ngantos kecalan nyawanipun, ananging sedaya dipuntetepi kanthi bingah. Para utusanipun Gusti sekawit sampun pirsa bilih nalika nglampahi timbalanipun Gusti ing jagad punika awrat ananging Gusti Allah sampun nyadhangaken kamulyan. “Jalaran Gusti Allah wus nyadhiyani kang luwih becik tumrap kita; tanpa kita wong-wong iku ora bisa tumeka ing kasampurnan (ay.40).” 
Pabalapan punika minangka ujianing iman ingkang kedah dipunlampahi ing sauruting gesang ing jagad punika. Saben tiyang pitados mboten saged nyingkiri kewajiban ing pabalapan. Pabalapan punika minangka wujuding tetandhingan iman ing jagad. Sedaya kedah dipunadhepi lan dipunlampahi kanthi kebak ing pangajeng-ajeng. Sauger nalika nglampahi pabalapan punika tansah mandeng Gusti Yesus Kristus mesthi badhe nampi berkah ing gesang lan badhe nampi makuthaning gesang langgeng.