Monday, May 27, 2024

Waktu, Perubahan, dan Kebijaksanaan Allah

Kitab Pengkhotbah, adalah sebuah kitab yang mempertanyakan makna hidup dan mengeksplorasi tema-tema seperti kebijaksanaan, keadilan, dan ketaatan kepada Allah. Pasal 3:1-13 khususnya, membahas tentang waktu dan musim dalam hidup manusia.

"Maukah aku menggambarkan kepada kamu mengenai apa yang terjadi pada manusia di bawah matahari?" (Pengkhotbah 3:1a)

Penulis kitab ini memulai dengan pertanyaan retoris, mengundang kita untuk mempertimbangkan realitas hidup manusia di bawah matahari. Ini adalah pengantar untuk pemaparan tentang waktu dan musim dalam kehidupan manusia.

"A time to be born and a time to die, a time to plant and a time to uproot, a time to kill and a time to heal, a time to tear down and a time to build, a time to weep and a time to laugh, a time to mourn and a time to dance..." (Pengkhotbah 3:2-4)

Salomo menyajikan kontras antara berbagai musim dalam hidup manusia. Ada waktu-waktu yang membawa kegembiraan dan keberhasilan, sementara waktu lainnya diwarnai oleh kesedihan dan kegagalan. Ini mengingatkan kita bahwa hidup manusia adalah serangkaian musim yang berbeda-beda, dengan segala kegembiraan dan kesedihan yang datang dan pergi.

"...a time to scatter stones and a time to gather them, a time to embrace and a time to refrain from embracing, a time to search and a time to give up, a time to keep and a time to throw away..." (Pengkhotbah 3:5-6)

Selain itu, Salomo menyoroti tindakan-tindakan yang berlawanan yang dapat kita hadapi dalam hidup kita. Ada waktu untuk bertindak dan waktu untuk menahan diri. Ini menunjukkan bahwa kita harus bijaksana dalam mengenali waktu dan musim dalam hidup kita, dan bertindak sesuai dengan keadaan yang diberikan Allah.

"What do workers gain from their toil? I have seen the burden God has laid on the human race. He has made everything beautiful in its time. He has also set eternity in the human heart; yet no one can fathom what God has done from beginning to end." (Pengkhotbah 3:9-11)

Salomo merenungkan kebermaknaan hidup manusia dan upaya-upaya manusia dalam bekerja. Dia menyadari bahwa meskipun manusia bekerja keras, segala sesuatu tetap berada dalam kendali Allah. Allah telah mengatur segala sesuatu pada waktunya, dan Dia telah menanamkan keinginan akan kekekalan di dalam hati manusia. Namun, manusia tidak dapat sepenuhnya memahami rencana Allah yang agung.

"I know that there is nothing better for people than to be happy and to do good while they live. That each of them may eat and drink, and find satisfaction in all their toil—this is the gift of God." (Pengkhotbah 3:12-13)

Salomo menyimpulkan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menemukan kebahagiaan dalam ketaatan kepada Allah dan melakukan kebaikan. Kita harus bersyukur atas segala berkat yang diberikan Allah kepada kita, termasuk kesenangan dalam pekerjaan kita, dan harus hidup dengan penuh kesadaran akan kebijaksanaan-Nya dalam mengatur segala sesuatu.

Dari pemaparan tersebut, kita dapat mengeksplorasi beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Pengkhotbah 3:1-13:

  1. Pemahaman tentang Waktu dan Musim: Hidup manusia adalah serangkaian musim yang berbeda-beda, dengan waktu untuk kegembiraan dan waktu untuk kesedihan. Kita harus belajar menerima dan menghargai setiap musim dalam hidup kita.

  2. Kebijaksanaan dalam Tindakan: Kita harus bijaksana dalam mengenali waktu dan musim dalam hidup kita, dan bertindak sesuai dengan keadaan yang diberikan Allah. Ini membutuhkan pengertian akan rencana Allah dan ketaatan kepada-Nya.

  3. Berkat dari Allah: Segala sesuatu yang kita miliki, termasuk kesenangan dalam pekerjaan kita, adalah berkat dari Allah. Kita harus bersyukur dan hidup dengan penuh kesadaran akan kebaikan dan kebijaksanaan-Nya.

  4. Ketidakmampuan Manusia: Meskipun kita berusaha memahami rencana Allah, kita tidak akan pernah sepenuhnya memahaminya. Allah adalah Sang Pencipta yang maha bijaksana, dan kita harus belajar untuk percaya kepada-Nya dalam segala hal.

Dengan merenungkan Pengkhotbah 3:1-13, kita dipanggil untuk menerima dan menghargai setiap musim dalam hidup kita, hidup dengan bijaksana sesuai dengan kehendak Allah, dan bersyukur atas segala berkat yang diberikan-Nya kepada kita. Semoga kita semua dapat hidup dengan penuh kesadaran akan kebijaksanaan dan kasih Allah dalam segala hal. Amin.

Kasih dan Kuasa Allah yang Menakjubkan

Mazmur 147 adalah sebuah pujian yang memuji Allah sebagai Sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta serta Bapa yang penyayang terhadap umat-Nya. Dalam pasal ini, fokusnya terutama pada kebesaran dan kasih Allah terhadap Yerusalem, kota-Nya yang dipilih, dan umat-Nya yang setia.

Ayat 12-20 dari Mazmur 147 adalah suatu ungkapan syukur atas kasih dan perlindungan Allah terhadap Yerusalem dan umat-Nya. Mari kita telaah dengan lebih mendalam.

"Yerusalem, puji TUHAN, puji Allahmu, hai Sion!" (Mazmur 147:12)

Mazmur dimulai dengan seruan untuk memuji Tuhan, khususnya di dalam kota Yerusalem dan Sion. Yerusalem adalah tempat khusus di mana Allah memilih untuk menempatkan nama-Nya dan memelihara umat-Nya. Seruan untuk memuji Tuhan tidak hanya terbatas pada suatu tempat atau kota tertentu, tetapi merupakan panggilan bagi seluruh umat untuk memuliakan Allah di dalam segala hal.

"Sebab Dialah yang memperkuat kepalang pintu gerbangmu, yang memberkati anak-anakmu di tengah-tengahmu." (Mazmur 147:13)

Allah tidak hanya memelihara kota Yerusalem, tetapi juga memberikan perlindungan dan berkat kepada penduduknya. Dia adalah benteng yang kokoh di mana umat-Nya dapat berlindung. Ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak hanya memelihara kita secara keseluruhan, tetapi juga memberikan perlindungan dan berkat kepada kita secara pribadi.

"Yang mengadakan kedamaian di dalam segala sempadanmu, yang dengan lemak yang terbaik memenuhi engkau." (Mazmur 147:14)

Allah memberikan kedamaian dan kelimpahan kepada Yerusalem, memastikan bahwa kota itu aman dari serangan musuh dan diberkati dengan kelimpahan. Ini adalah gambaran dari berkat-berkat Allah yang melimpah bagi umat-Nya yang setia. Allah tidak hanya memenuhi kebutuhan kita, tetapi juga memberikan berkat berlebihan yang melimpah kepada kita.

"Allah menyampaikan firman-Nya kepada Yakub, peraturan dan ketetapan-Nya kepada Israel." (Mazmur 147:19)

Mazmur ini juga menegaskan bahwa Allah memberikan hukum-Nya kepada umat-Nya, memberi mereka petunjuk dan pedoman untuk hidup yang benar. Firman Allah adalah sumber kebijaksanaan dan kebenaran bagi umat-Nya, dan melalui firman-Nya, Dia memberikan petunjuk bagi mereka untuk hidup dalam ketaatan dan kebenaran.

"Tidaklah demikian bagi segala bangsa; mereka tidak mengenal ketetapan-Nya. Haleluya!" (Mazmur 147:20)

Mazmur ini menunjukkan bahwa bangsa-bangsa lain tidak memiliki akses kepada hukum dan perintah Allah seperti Israel. Allah telah memilih Yerusalem dan umat-Nya sebagai milik-Nya sendiri, dan Dia memberikan firman-Nya kepada mereka secara khusus. Ini menunjukkan kedudukan khusus umat Allah di mata-Nya, dan juga tanggung jawab yang mereka miliki sebagai pembawa kebenaran dan cahaya kepada bangsa-bangsa lain.

Dari pemaparan tersebut, kita dapat mengeksplorasi beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Mazmur 147:12-20:

  1. Panggilan untuk Memuji Tuhan: Seperti yang diungkapkan dalam ayat pertama Mazmur ini, kita semua dipanggil untuk memuji Tuhan dalam segala hal. Kehadiran-Nya dalam hidup kita patut disyukuri dan dimuliakan.

  2. Allah sebagai Pelindung dan Pemberkat: Allah adalah pelindung yang setia bagi umat-Nya. Dia memelihara, memberkati, dan memberikan kelimpahan kepada mereka yang setia kepada-Nya. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa kita dapat bergantung sepenuhnya pada Allah dalam segala hal.

  3. Kedudukan Khusus Umat Allah: Israel dipilih oleh Allah sebagai milik-Nya sendiri, dan Dia memberikan firman-Nya kepada mereka. Ini menunjukkan bahwa umat Allah memiliki tanggung jawab khusus untuk hidup sesuai dengan firman-Nya dan menyebarkan kebenaran-Nya kepada bangsa-bangsa lain.

  4. Nilai Firman Allah: Firman Allah adalah sumber kebijaksanaan dan kebenaran bagi umat-Nya. Kita harus mencari dan memahami firman-Nya dengan sungguh-sungguh, dan hidup sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya.

Dengan merenungkan Mazmur 147:12-20, kita dipanggil untuk bersyukur atas kasih dan perlindungan Allah yang luar biasa, hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya, dan memuliakan-Nya dalam segala hal. Semoga kita semua dapat hidup sesuai dengan panggilan-Nya dan menjadi saksi-saksi cahaya-Nya di dunia ini. Amin.

Friday, August 25, 2023

PASAMUWAN KANG NYAWIJI

Renungan Dalam rangka HUT RI ke-78 tahun dan HUT GKJ Sabda Winedhar ke-16 tahun

Bahan: Efesus 4:1-16 

Nyawiji adalah bentuk kata kerja dari kata sawiji yang artinya satunggal (satu), dengan demikian sawiji berarti menjadi satu atau menyatu. Jika kata sawiji ditambahkan kepada kata pasamuwan (jemaat) menjadi pasamuwan kang nyawiji berarti jemaat yang menyatu. Jemaat yang menjadi satu, menjadi satu dalam hal apa?  Yang pertama adalah menjadi satu dengan Tuhan karena jemaat lahir oleh karya penebusan Tuhan Yesus Kristus dimana orang-orang yang percaya kepadanya kemudian berusaha untuk menyatu dengan Kristus dalam usaha mengenal dan melakukan panggilanNya. Yang kedua, berusaha menyatu dengan sesama dalam hal ini sama-sama sebagai anggota gereja dan gereja di Tengah sesame yang berbeda dalam hal kepercayaan. Pertanyaan kemudian bagaimana agar kita senantiasa dimampukan menjadi pasamuwan kang nyawiji dengan Tuhan dan sesama?

Rasul Paulus yang pada waktu itu telah dipenjara karena mengabarkan Injil memberikan nasehat melalui surat kepada jemaat Efesus.

1)      Ayat 4:2 “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Untuk menjadi pasamuwan kang nyawiji maka sikap yang rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu harus dibangun dengan baik,

2)      Ayat 4:3-6 “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.” Untuk menjadi pasamuwan kang nyawiji maka kita harus berusaha belajar memahami kehendak Tuhan, selalu berusaha hidup dalam kehendaknya dan mau dibentuk oleh Tuhan dengan kuasa RohNya.

Kenapa kita harus melakukan itu semua?

Karena Tuhan Yesus telah memberikan kasih karuniaNya kepada kita. Menebus dosa kita dan bahkan memulihkan kondisi hidup kita sebagai manusia di hadapan Tuhan Allah. Selain itu Ia juga “memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” Bukankah sedemikian berharganya hidup kita? diberi sesuatu yang berharga. Selain pemberian yang berharga itu, kita juga dimampukan menjalani hidup dan panggilan sebagai pasamuwan kang nyawiji untuk bersama mempunyai pemahaman bahwa kita anak Allah, mencapai kedewasaan dan tumbuh ke arah kesempurnaan Kristus. Ringkasnya: Tata pasamuwan kang Nyawiji menjadi cerminan orang-orang pilihan Allah. Selain itu kita dikuatkan, karena iman dan hidup kita tidak aman-aman saja, seringkali kita diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.

Oleh karena itu untuk tetap menjadi pasamuwan kang nyawiji mari kita selalu melekat dengan Tuhan, belajar memahami kehendakNya, dan sekaligus mewujudkan panggilanNya melalui sikap rendah hati, lemah lembut, sabar dan penuh kasih satu dengan yang lain. Selamat merayakan hidup dan panggilan Tuhan. Amin

 


Saturday, June 10, 2023

PERTELAAN SAKRAMEN BAPTIS (Anak)


PEMBUKAAN

Pengantar

Jemaat yang terkasih, sebagaimana telah diwartakan kepada jemaat dan tidak ada keberatan yang sah, dalam ibadah ini akan dilayankan Sakramen Baptis

Sakramen Baptis adalah alat pemeliharaan iman sekaligus tanda penyelamatan Allah, sakraman baptis menunjukkan:

1. pembasuhan manusia dari dosa oleh darah Kristus

2. Pengampunan dosa

3. Pembenaran atas manusia oleh Allah, dan

4. Kelahiran baru

Anak-anak keluarga kristen wajib dibaptis sebab mereka juga mempunyai tempat di dalam perjanjian keselamatan bersama-sama dengan orang tuanya. Atas didikan orang tua, pada saat dewasa nanti, anak-anak wajib menyatakan pengakuan percaya (sidi)

Doa

(Doa persiapan Pelaksanaan Sakramen Baptis)

PELAKSANAAN

Pananting

Saudara-saudara yang akan membaptiskan anak silahkan berdiri, yaitu..........

Agar jelas bahwa saudara percaya anak saudara juga dikaruniai keselamatan dan saudara bersedia mendidik anak (anak) tersebut agar ketika dewasa menyatakan percayanya, maka saudara silakan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apakah saudara menyakini bahwa anugerah keselamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus juga diberikan kepada anak (anak) saudara?
  2. Apakah saudara bersedia mendidik anak (anak) saudara agar imannya bertumbuh, sehingga ketika dewasa ia (mereka) menyatakan pengakuan percaya?
  3. Apakah saudara bersedia menerima penggembalaan berdasarkan Alkitab, jika saudara melalaikan tugas dalam mendidik anak (anak) saudara?
Bagaimana Jawab Saudara?

(dijawab: "Ya dengan sepenuh hati")

Pelayanan Baptis

.........(disebut namanya)

Kamu saya baptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh kudus

Berkat

Tuhan Allah yang memanggil saudara dan anak saudara ke dalam hidup baru, memberkati saudara dan anak saudara untuk bertumbuh dalam iman, hingga mencapai kebahagiaan keselamatan sempurna. Amin

Doa Syukur

(Doa syukur atas anugerah sakramen, dan bagi anak yang telah menerima anugerah sakramen, dan doa bagi orang tua dan jemaat)

PENUTUP

Penyerahan Surat Tanda Baptis

Penyerahan Kepada Jemaat

(orang tua yang membaptiskan anak dan anak yang telah dibaptis menghadap jemaat)

Jemaat yang terkasih, inilah anak (-anak) yang telah menerima sakramen baptis, terimalah ia (mereka) di dalam Tuhan sebagai warga gereja. Dukunglah anak (anak) ini agar dapat bertumbuh imannya sehingga pada saatnya nanti menjadi warga gereja yang dewasa.

(orang tua yang membaptiskan anak dan anak yang telah dibaptis disilakan duduk)



PAMBUKA

Pasamuwan ingkang kinasih, kados ingkang sampun kawartosaken dhateng pasamuwan lan mboten wonten panyaruwe ingkang sah, wonten ing ibadah punika badhe kaladosaken Sakramen Baptis.

Sakramen Baptis punika minangka sarana pangrimating kapitadosan saha tanda pakaryan kawilujengan saking Gusti Allah, dene Saramen Baptis ngemu suraos:

  1. Tanda pangresikaning manungsa saking dosa awit rahipun Sang Kristus
  2. Tanda Pangapuntening dosa
  3. Tanda manungsa kaleresaken dening Gusti Allah 
  4. Tanda gesang enggal
Anak-anakipun tiyang pitados wajib dipun baptis, awit anak-anak menika ugi kaparingan papan ing prasetyaning kawilujengan sesarengan kaliyan tiyang sepuhipun. Awit panggulawenthahipun tiyang sepuh, nalika para lare diwasa mangkenipun, anak-anak wajib ngakenana kapitadosanipun (Sidi)

Donga
(Donga pecawisan lumampahing peladosan Sakramen Baptis)

TUMINDAKING PELADOSAN

Pananting

Sedherek-sedherek ingkang badhe baptisaken lare kaaturan jumeneng, inggih punika sedherek......

Supados tetela bilih panjenengan (sami) pitados menawi putra (-putra) panjenengan nampeni sih rahmat kawilujengan lan panjenengan sagah nggulawenthah putra (putra) panjenengan supados samangsa sampun diwasa nelakakan pangakening pitadosipun, panjenengan kaaturan mangsuli pitakenan -pitakenan punika:
  1. Punapa panjenengan pitados bilih pakaryan kawilujenganipun Gusti Allah lumantar Gusti Yesus Kristus ugi kaparingaken dhateng putra (-putra) panjenengan?
  2. Punapa panjenengan  sagah nggulawenthah putra (-putra) panjenengan supados kapitadosanipun tuwuh ngrembaka, temah saksampunipun diwasa (sami) purun nelakakan pitadosipun?
  3. Punapa panjenengan sagah nampeni sawernining pamerdi adhedhasar kitab suci, samangsa panjenengan nglirwakaken panggulawenthah dhateng putra (-putra) panjenengan?
Kadospundhi wangsulan panjenengan sedherek.....?
(kawangsulan: "Inggih kanthi gumolonging manah")

PELADOSAN BAPTIS
......(kasebat naminipun)

Kowe dak baptis ing asmane Sang Rama. Sang Putra lan Sang Roh Suci

Berkah

Gusti Allah ingkang sampun nimbali panjenengan tuwin putra (-putra) panjenengan ing salebeting gesang enggal, keparenga mberkahi panjenengan tuwin putra (-putra) panjenengan tuwuh ing iman kapitadosanipun ngantos nggayuh kawilujengan ingkang sampurna. Amin

Pandonga Sokur
(Donga sokur awit berkahing sakramen, donga kangge lare ingkang sampun nampi sakramen, donga kangge tiyang sepuh lan pasamuwan)

PENUTUP

Masrahaken Surat Tanda Baptis

Masrahaken Dhateng Pasamuwan  
(Tiyang sepuh ingkang mbaptisaken larenipun lan lare ingkang sampun nampi tanda baptis majeng ing ngajenging pasamuwan)

Pasamuwan ingkang kinasih, punika lare (-lare) ingkang sampun nampeni sakramen Baptis. Kula aturi nampeni wonten ing Gusti minangka warganing pasamuwan. Kabiyantua lare (-lare) punika supados tuwuh lan ngrembaka ing imanipun temah ing wancinipun dados warganing pasamuwan ingkang diwasa.

(Tiyang sepuh ingkang baptisaken lare lan lare ingkang sampun baptis kaaturan lenggah) 
 

Tuesday, March 17, 2020

WABAH CORONA LAN PANAMPI KITA

Firman : Lukas 21:5-18
      Wekdal punika sesarengan kita badhe mawas diri kanthi nggatosaken pangandikanipun Gusti ingkang kula pendhetaken saking Injil Lukas 21:7-18 (Kawaos) dene ayat nats kula pendhetaken saking ayat 10 lan 11 (kawaos).
Para sedulur, dinten-dinten punika kita sami nampi pawartos saking TV, Media Sosial, internet lan sanes-sanesipun sesambetan kaliyan Virus Corona. Mboten namung sepisan, ananging saben dinten lan kanthi jumlah ingkang matikhel-tikhel cacahipun. 

Virus punika kapanggihaken wiwit ing kitha Wuhan-China pungkasan wulan desember 2019 lan sakpunika sampun sumebar ing saperangan ageng negari-negari ing donya punika kalaebet ing Indonesia. Malah kabar bab COVID-19 ngantos sepriki kacathet ing worldometer.com ingkang pejah sampun ngancik cacah 13,071 ewu langkung tiyang ing dinten Minggu tgl 20 maret 2020 jam 17.50 WIB.
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) punika virus ingkang nyerang sistem pernapasan. Penyakit amargi infeksi virus punika dening WHO sinebat COVID-19. Virus Corona punika njalari gangguan ing sistem pernapasan, pneumonia (radang paru-paru) akut, ngantos pejah. Virus punika saged nyerang sinten kemawon, wiwit bayi, lare, tiyang dewasa, para ibu ingkang ngandheg ngantos adiyuswa.

Saben kita saged katularan dening Covid-19 kanthi maneka werni cara inggih punika:
  • Tanpa sengaja kalebetan saking idunipun (ludah) tiyang sakit covid-19 ingkang nembe wahing utawi nalika watuk.
  • Nyekel lambe utawi irung tanpa wijik langkung rumiyin saksampunipun nyekel barang ingkang sampun kecipratan idunipun tiyang ingkang sakit COVID-19
  • Aben ajeng langsung lan celak kaliyan tiyang ingkang kenging COVID-19 umpaminipun salaman, ngambung pipi kiwa tengen, ngrangkul, lsp.

Awit perkawis punika, sawetawis negari kadosdene Filipina, China, Italia ngantos Denmark nutup negarinipun utawi ingkang sinebat Lock Down. Dene ing Indonesia, Presiden Joko widodo ngandikakaken dereng badhe ngawontenaken Lock Down, ananging nembe ngirangi kegiatan masyarakatipun mirungganipun ingkang kithanipun sampun wonten ingkang kenging penyakit Covid-19. Sedaya sami kaliburaken.
Amargi kawontenan ingkang mekaten punika, malah amargi kathahipun pawartos ingkang sesambetan perkawis Covid punika kathah tiyang ingkang sami ajrih, kuwatos, panik malah parno utawi paranoid ajrih kelangkung-langkung, mbokbilih kelebet kita ugi.
Para sedulur
Lajeng kadospundhi kita ngadhepi virus Covid-19 ingkang sampun sumeber ing jagad punika?

Ingkang sepisan, temtu kedah manut instruksi Lembaga Kesehatan dadosa WHO punapadene pamerintah ingkang sampun maringi cara-cara kadospundhi kita ngadhepi punika supados kita mboten gampil ketularan Virus Copid-19.

Ingkang kaping kalih, sambet ingkang kacariyosaken ing kitab Suci awit bab wabah penyakit sampun kaweca dening Gusti Yesus, badhe wonten ganti gumanti ing gesanging tiyang ing jaman akhir. Kados ingkang kaserat ing ayat 10-11 “Panjenengane banjur ngandika marang wong-wong mau: “Bakal ana bangsa kang nglawan padha bangsa, Karajan nglawan padha Karajan, lan bakal ana lindhu kang nggegirisi sarta ing kana kene bakal ana pageblug pes lan pailan, apadene bakal kalakon uga ana bab-bab kang ngagetake tuwin ilapat-ilapat kang nggegirisi saka ing langit.” Lukas 21:11 (BIS)  “di mana-mana akan terjadi gempa bumi yang hebat, bahaya kelaparan dan wabah penyakit.” Tegesipun perkawis wontenipun pageblug pes sampun kawartosaken dening Gusti Yesus dhumateng para murid nalika semanten kelebet kula lan panjenengan. Kita sampun nampi wartos lan kita sampun nampi kawontenan punika. Kanthi mekaten, menawi kita sampun nampi wartosipun mboten perlu gumunan lan kagetan kadosdene tiyang ingkang babar blas dereng mangertos.
Namung amargi kita sakpunika gesang ing jaman ingkang majeng lan canggih; punapa malih kita mboten asring maos pangandikanipun Gusti amargi ingkang kita cepeng namung HP lan njingglengi Medsos mila kadangkala kita lajeng kesupen pawartosipun Gusti Yesus. Temah panampi kita mboten wonten bedanipun kaliyan sanesipun. Ingkang ajrih, kuwatos, paranoid ajrih ingkang kalangkung-langkung.

Lajeng kadospundhi supados kita mboten sami kadosdene tiyang sanesipun? Kula mendhet ayat ingkang pungkasan ing bab punika, inggih punika ing ayat 19
  • “Manawa kowe padha tetep mantep, kowe bakal padha nampani uripmu”
  • terjemahan sederhana Bhs Ind. “Dengan tetap bertahan dalam kesusahan itu, maka kalian akan memperoleh hidup yang selama-lamanya.”
  • Versi Mudah Dibaca “Kamu akan menyelamatkan dirimu sendiri dengan tetap kuat di dalam imanmu melalui semua hal itu”

Tembung tetep mantep ing bausastra nggadahi teges 1) kukuh lan setya marang pasuwitan (panemu, lsp), 2) Wis tetep temenan, kc. Antep. Tembung punika ngengetaken dhateng kita bilih satunggaling cara ngadhepi virus covid-19 lan nampi pawartos ingkang kelangkung kathah inggih punika tetep mantep ing pitados lan keyakinan diri. Mantep ing pitados lan keyakinan diri punika satunggaling sikap ingkang positif ing gesang. Miturut penelitian ing Universitas Queensland dhateng saperangan tiyang dewasa ingkang umuripun 65-90 tahun. Manggihaken bilih Sikap positif nuwuhaken system kekebalan tubuh ingkang njalari gesang langkung panjang. Penelitian ingkang katindakaken watawis kalih tahun manggihaken bilih tiyang ingkang remen menggalih perkawis-perkawis ingkang sae lan maedahi (positif) langkung kiyat imunitas (system kekebalan tubuh) badanipun. Caranipun tiyang ingkang kateliti kasuwun nyawang sawetawis foto ingkang sae lan ingkang ala. Lajeng kasuwun ngenget-enget foto sepisanan ingkang dipunremeni. Nalika ngenget-enget punika,  fungsi kekebalan tubuh punika dipun ukur kaliyan piranti kangge ngukur tes darah.
"Peserta yang lebih banyak melihat gambar atau foto positif ketimbang negatif memiliki antibodi dalam darah yang menunjukkan sistem kekebalan tubuh mereka lebih kuat dibanding rekan-rekan mereka yang negatif," mekaten ingkang kaaturaken dening peneliti utama, Dr Elise Kalokerinos.
Kanthi mekaten, saben kita kedah budidaya mbangun diri ing sikap ingkang positif. Mantep ing pitados lan gesang badhe maedahi ing samudayanipun. Kados ingkang ingkang kapangandikaken dening Gusti Yesus “Manawa kowe padha tetep mantep, kowe bakal padha nampani uripmu”. Mugi kita tansah kasagedaken nglairaken manteping pitados lan keyakinan diri temah tansah kakiyataken ing sawernining perkawis ingkang kita adhepi. Gusti mberkahi. Amin.

Wednesday, February 5, 2020

TATA CARA PECAWISAN SAKRAMEN BUJONO


Waosan : Lukas 22:14-20

Pasamuwan ingkang kinasih
Ing Jepang, wonten satunggaling tradisi upacara minum teh sesarengan. Tradisi punika nggadahi maknaning gesang ingkang lebet lan minangka piwulang tata krami ingkang sae. Upacara minum teh punika traadisi ingkang sampun kelampahan turun tumurun wiwit jaman Edo. Upacara minum teh (sado, chado, lan margi teh) minangka ritual tradisional ing Jepang nalika nampi tamu. Umumipun, upacara minum teh punika ngginakaken teh bubuk matcha ingkang kadamel saking teh ingkang sampun kagiling alus. Sakderengipun upacara punika kawiwitan, tamu saged nengga ing ruang tamu ngantos ingkang gadhah griya ngrampungaken pecawisanipun. Saksampunipun punika para tamu kasuwun mlampah ing roji minangka lambang ngresiki diri saking regetan. Tamunipun kasuwun mijiki tangan lan tutugipun. Salajengipun, ingkang gadhah griya nampi tamunipun ing ruang utami ingkang kedah mlebet saking konten utami ingkang ukuranipun andhap, milanipun nalika ajeng mlebet, tamu punika kedah mbungkuk.
Saksampunipun tamunipun lenggah, ingkang gadhah griya nglajengaken prosesi ngresiki lan nyawisaken piranti wiwit mendhet mangkok, sendok teh lan piranti sanesipun. Biasanipun piranti ingkang kaagem antawisipun Okama (piranti manasaken toya), Mizu sashi (wadah toya resik kangge damel ocha), Koboshi (papanipun wadah kangge nyuci bekas piranti teh), , Onatsume (gelas kangge ocha), Ocha syaku (ocha kangge sado), Cha sen (piranti kangge ngaduk teh), Hisyaku (centong toya), Senshu (kipas), Kaishi (wadah okashi/panganan ingkang sesarengan katedha nalika ngunjuk teh), Kashi kiri (pisau motong kue), Ojiku (kaligrafi), Ikebana (rangkaian bunga).
Saben prosesi upacara ngunjuk teh punika ngemu teges ingkang lebet. Prosesi ingkang gadhah griya ngurmati tamu punika tegesipun paring urmat ingurmatan dhateng sanesipun. Lumantar upacara punika saben tiyang jepang maringi teges bilih upacara minum teh punika suci (sakral). Lan paring gambaran bilih ingkang baken punika mboten nalikanipun teh diminum ananging kadospundhi proses ndamelipun. Salebeting nyawisaken, damel teh lajeng nyegahaken kanthi raos ingkang urmat lan tata krami punika ngengetaken diri dhateng jagat, ngengetaken dhateng lampahing gesang, lan kemutan saking pundhi kita wiwitanipun lan badhe dhateng pundhi kita mangkenipun.
Semanten ugi dungkap Gusti Yesus sinalib, “bareng wis tumka ing wayahe, Gusti Yesus banjur lenggah dhahar bebarengan karo para rasule”(ayat 14). Panjenenganipun netepaken upacara ingkang sakral tumrap para muridipun lan tumrap grejanipun. Saksampunipun sedaya katata piranti lan uba rampenipun miturut tradisi paskah Yahudi, Panjenenganipun paring pangandika, piwulang lan netepaken upacaranipun tiyang Yahudi sambet Paskah punika kanthi makna ingkang enggal.
Kawiwitan saking pangandika “aku ora bakal mangan iku maneh……” lajeng panjenenganipun lajeng mundhut tuwung, saos sokur nuli ngandika: “Iki tampanana lan edumen kang warata”. Semanten ugi Gusti Yesus ngandika malih: “wiwit saiki iki Aku ora bakal ngombe pametuning wit anggur…..” lajeng saksampunipun punika lajeng maringaken dhateng para sekabat lan netepaken roti lan anggur kangge pangenget-enget bab pangurbananipun Gusti Yesus ing kajeng salib. Awit pangenget-enget mila upacara ngunjuk anggur lan ndhahar roti tanpa ragi punika kedah tansah katindakaken dening para murid dalah kita sedaya.
Gusti Yesus kembul sesarengan ing pambujanan, netepaken maknaning Paskah ingkang anyar punika satunggaling rerangkening Paskah ingkang suci tumrap kita. Awit suci punika mila kasebat sakramen. Istilah ingkang kapendhet saking basa latin sacramentum ingkang ateges “satunggaling tumindak ingkang suci”.
Mila nalika wekdal punika kita sami katimbalan nindakaken upacara sakramen bujono lan kita sedaya badhe nampi. Sumangga kita sami nyawisaken kanthi cara-cara ingkang njalari kebabaring kasucening diri punapadene kasucening upacara ingkang badhe katindakaken ing salebeting pangibadah. Gusti mberkahi kita sedaya. Amin.

Saturday, February 1, 2020

Pratelan Tetepan badan Pembantu Pradataning Pasamuwan


Pratelan
Tetepan badan Pembantu
Pradataning Pasamuwan

Pasamuwan ingkang kinasih
Kados ingkang sampun kawartosaken ing pawartosing pasamuwan, ing dinten punika badhe kaladosaken tetepan Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan
Gusti Allah sampun kmakarya kangge milujengaken manungsa lan menika sampun kelampahan wonten ing pribadi tuwin pakaryanipun Gusti Yesus Kristus kanthi madegipun pasamuwan. Dumugi sakmenika, pakaryanipun Gusti taksih lan tansah katindakaken. Pasamuwan katimbalan dados srana ing pakaryanipun Gusti punika lumantar pangreh saha panggulawenthahipun pradataning pasamuwan. Ing salebetipun nindakaken ayahan punika, pradataning pasamuwan saged ngangkat Badan Pembantu.

Dene kewajibanipun Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan inggih punika:
  1. Nindakaken tugas ingkang sampun katetepaken dening Pradataning Pasamuwan
  2. Ngaturaken pelapuran tumrap kewajiban ingknag dados tanggel jawabipun dhateng Pradataning Pasamuwan ing wekdal-wekdal ingkang sampun katemtokaken, menapadene ing pungkasaning tugasipun.
  3. Damel, nyimpen lan ngrimati arsip-arsip tuwin dokumen, lan sapanunggalanipun ingkang sambet kaliyan tugasipun, saha masrahaken sedayanipun dhateng Pradataning Pasamuwan ing pungkasaning tugasipun.

Pasamuwan ingkang kinasih
Badan pembantu Pradataning Pasamuwan menika sanes kalenggahan mirunggan ing Pasamuwan, sarta wekdal peladosanipun winates. Wekdal punika, peladosanipun Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan periode……..sampun purna.
Samangke para sadherek ingkang sampun purna peladosanipun minangka Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan, kaaturan sami jumeneng, inggih punika…………..

Para sedherek,
Wekdal peladosan panjenengan sampun purna, kanthi menika secara resmi kula nelakakan, bilih panjenengan lereh saking kalenggahan minangka Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan. Pradataning Pasamuwan ngaturaken panuwun dhateng panjenengan ingkang sampun nyambutdamel sesarengan ing salebeting peladosan. Salajengipun, senajan panjenengan sampun lereh, panjenengan kasuwun tansaha kagungan greget nindakaken peladosan, awit kita sumurup, bilih wonten ing patunggilanipun Gusti, kangelan kita mesthi mboten muspra.

(Badan Pembantu pradataning pasamuwan ingkang sampun
mugkasi wekdal peladosanipun kaaturan lenggah.)

Ing wekdal menika badhe katindakaken tetepan Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan. Dene ingkang badhe katetepaken inggih punika………… (kasebutaken asma badan Pembantu Pradataning pasamuwan sarta para ingkang lenggah ing Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan wau).

Para sedherek ingkang badhe katetepaken kula aturi Jumeneng (kaaturan Jumeneng sesarengan)

Para sedherek…… (ingkang badhe katetepaken dados Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan) ingkang dipun kasihi dening Gusti Yesus.
Supados tetelaa bilih panjenengan sami sagah nindakaken tugas Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan kanthi bingah sarta tanggel jawab, panjenengan mangsulana pitakenan-pitakenan punika:
  1. Minangka tiyang ingkang sampun kawilujengaken, panjenengan menapa nampi lan sagah dipun agem dening Gusti Allah dados pirantos wonten ing pakaraning Allah?
  2. Panjenengan menapa pitados bilih Gusti Allah nimbali panjenengan lumantar Pradataning Pasamuwan dados Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan?
  3. Panjenengan menapa sagah nindakaken ayahan peladosan kanthi bingah lan tanggel jawab?
  4. Panjenengan menapa sagah nampeni sawernining pangengen adhedhasar Kitab Suci?
Kadospundhi wangsulan Panjenengan?
(Pitakenan dhateng saben Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan dipunwangsuli sesarengan)

(Kawangsulan: inggih kanthi gumolonging manah)

(Pandhita nglantaraken Tetepan)
“Awit saking sih-rahmatipun Sang Rama, Sang Putra tuwin Sang Roh Suci, pradataning pasamuwan…………..netepaken Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan”

(Pandhita nglantaraken berkah)
“GUSTI ALLAH INGKANG MAHATRESNA MBERKAHI PANJENENGAN ING SALEBETING NGAYAHI TUGAS INGKANG MULYA PUNIKA. LAN SADHENGAH APA KANG KOKTINDAKAKE KALAWAN TEMBUNG UTAWA KALAWAN PANGGAWE, IKU KABEH LAKONANA ATAS ASMANE GUSTI YESUS KAMBIA SOAS SOKUR MARANG GUSTI ALLAH, RAMA KITA LUMANTAR PANJENENGANE. AMIN.”

(Pandhita nglantaraken pandonga)
Pandhita masrahaken Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan ingkang nembe katetepaken dhateng Pasamuwan)

Pasamuwan ingkang kinasih
Badan Pembantu Pradataning Pasamuwan ingkang nembe katetepaken menika mugi panjenengan tampi. Biyantonana ing pandonga, daya lan dana, supados saged nindakaken tugasipun nyondongi kersanipun Gusti Allah.

PELEREHAN/TETEPAN PINISEPUH LAN DIAKEN


Pratélan
PELEREHAN/TETEPAN PINISEPUH LAN DIAKEN

Pasamuwan ingkang dipun kasihi déning Gusti Yesus Kristus,
Kados ingkang sampun kawartosaken ing pawartosing Pasamuwan, wonten sedhèrèk (-sedhèrèk) Pinisepuh (tuwin Diaken) ingkang sampun dumugi wekdalipun lereh saking kalenggahanipun saha wonten sedherek (-sedherek) ingkang badhé katetepaken ing kalenggehanipun Pinisepuh (tuwin Diaken). Ing pangibadah menika badhe kaladosaken pelerehan tumrap sedherek (-sedherek) ingkang sampun telas wekdal peladosanipun lan awit ngantos dumugi samenika mboten wonten panyaruwe ingkang sah, ingkang kaaturaken dhateng pradataning pasamuwan, badhe kaladosaken tetepan Pinisepuh (lan Diaken) enggal.

Pasamuwan menika mujudaken patunggilanipun para tiyang pitados ingkang underanipun wonten ing Sang Kristus. Minangka patunggilanipun para tiyang pitados, pasamuwan nggadhahi kepemimpinan ingkang dumados saking kalih sisih, inggih menika:
  • Sisih Kaallahan, awit Pasamuwan kapimpin déning Gusti Allah srana pakaryanipun Roh Suci,sarta Kitab Suci ingkang dados pirantosipun.
  • Sisih Kamanungsan, awit Pasamuwan kapimpin déning manungsa, awit saking kersanipun Gusti Allah.


Awit saking menika, Gusti Allah nimbali para pelados mirunggan, inggih menika Pinisepuh, Pendhita tuwin Diaken.
Kuwajiban ingkang sipatipun umum, pinisepuh tuwin diaken, sesarengan kaliyan Pendhita, tanggel jawab dhateng sawernining peladosanipun Pasamuwan, dadosa bab Pangundhanging Injil, pangrimating kapitadosanipun warga Pasamuwan, menapa déné bab organisasining Pasamuwan.
Déné kuwajiban utamanipun Pinisepuh nindakaken pepréntahaning Pasamuwan, sarta kuwajiban utaminipun Diaken ngrimati gesanging jasmanipun warga Pasamuwan, menapadéné nindakaken paladosan dhateng masyarakat umum.

Pendhita ngaturi jumeneng Pinisepuh (lan Diaken) ingkang sampun dumugi wekdalipun lereh saking kalenggahanipun

Sedhèrèk (-sedhèrèk) Pinisepuh (lan Diaken) ingkang badhé lereh saking kalenggahanipun kaaturan jumeneng ing sangajenging pasamuwan, inggih menika sedhèrèk.......................
Miturut pranataning pasamuwan, wekdal peladosan panjenengan minangka Pinisepuh (lan Diaken) sampun purna. Pramila ing pangibadah menika kanthi resmi kula nélakaken, bilih panjenengan (sedaya) sampun lèrèh saking kalenggahan Pinisepuh (lan Diaken). Kanthi menika Pasamuwan  ngaturaken panuwun dhateng panjenengan (sedaya) ingkang sampun nindakaken peladosan ngantos dumugi wekdal menika. Mekaten ugi Pradataning Pasamuwan ngaturaken panuwun dhateng panjenengan (sedaya) ingkang sampun nyambut damel sesarengan ing salebeting peladosan. Salajengipun, sinaosa sampun mboten ngasta kalenggahan Pinisepuh (tuwin diaken) nanging panjenengan (sedaya) tansaha grengseng nindakaken peladosan ing Pasamuwanipun Gusti, awit kita sumerep bilih wonten ing patunggilanipun Gusti, kangèlan kita mesthi mboten muspra.

Pendhita ngaturi Pinisepuh (tuwin Diaken) ingkang nembé lèrèh saking kalenggahanipun, lenggah nunggil kaliyan pasamuwan.
Sedhèrèk (-sedhèrèk) ingkang badhé katetepaken ing kalenggahanipun Pinisepuh (tuwin Diaken), kaaturan jumeneng, inggih menika sedhèrèk.................
Supados Pasamuwan nekseni, bilih panjenengan (sedaya) sagah nindakaken kuwajiban minangka Pinisepuh (tuwin Diaken), panjenengan kasuwun mangsuli pitakénan-pitakénan menika :
  1. Panjenengan menapa pitados, bilih Gusti Allah nimbali panjenengan lumantar Pasamuwanipun, wonten ing kalenggahan Pinisepuh (tuwin Diaken)?
  2. Panjenengan menapa ngakeni, bilih Gusti Allah Ratuning Pasamuwan ngersakaken tanggel jawab panjenengan wonten ing kalenggahan Pinisepuh (tuwin Diaken), supados gesang tuwin peladosan panjenengan njalari Pasamuwan wonten paédahipun wonten ing pakaryanipun Gusti Allah anggènipun paring kawilujengan?
  3. Panjenengan menapa sagah nindakaken kuwajiban minangka Pinisepuh (tuwin Diaken) kanthi tumemen, adhedhasar Kitab Suci, Pokok-Pokok Ajaran GKJ, sarta Tata Gereja dan Tata Laksana  GKJ?
  4. Panjenengan menapa sagah nyambut damel sesarengan kaliyan para ingkang sami ngasta kalenggahaning Pasamuwan sanesipun?
  5. Panjenengan menapa sagah nyambut damel sesarengan kaliyan Pasamuwan-pasamuwan sanès, inggih menika sariranipun Sang Kristus, menapadéné nyambut damel sesarengan urmat-ingurmatan kaliyan para ingkang nganut keyakinan/agami sanès, murih ndhatengaken katentreman sarta karaharjaning gesang?
  6. Panjenengan menapa sagah nampèni sawernining pangengèn adhedhasar Kitab Suci?


Kadospundi wangsulan panjenengan Sedhèrèk.....................
(kawangsulan: “Inggih kanthi gumolonging manah”)

Pinisepuh (tuwin Diaken) ngucapaken janji lan napak asmani PPA-GKJ*

Pendhita nglantaraken berkah

“Gusti Allah Ingkang Maha-asih, mberkahi panjenengan ing salebeting nindakaken peladosan ingkang mulya menika. Gusti Allah ingkang sampun miwiti pedamelan ingkang saé menika badhé nglajengaken ngantos dumugi wekasanipun. Tansah sami bingaha, lan ndedongaa, sarta ngunjukna panuwun ing sadhéngah kawontenan.”

Pendhita nglantaraken pandonga sukur tumrap ingkang lèrèh saking kalenggahan Pinisepuh (tuwin Diaken) sarta tumrap ingkang miwiti kalenggahanipun.
Pendhita ngaturi Pinisepuh (lan Diaken) ingkang nembé katetepaken kalenggehanipun ngajengaken Pasamuwan, salajengipun Pendhita masrahaken peladosanipun.

Sedhèrèk (-sedhèrèk) ingkang nembé katetepaken ing kalenggahanipun Pinisepuh (tuwin Diaken), ing ngajeng Panjenengan (sedaya) menika Pasamuwanipun Gusti Allah ingkang kedah panjenengan pimpin. Ing salebetipun nindakaken kuwajibaning Pemimpin Pasamuwan, tansah kanthi ngengètana pangandikanipun Gusti Allah, ingkang mekaten:
“Pepanthan mendané Gusti Allah kang ana ing kowé iku engonen, aja marga kapeksa, nanging klawan legawaning ati, laras karo karsaning Allah, sarta aja marga saka kepéngin olèh kauntungan, nanging klawan rasa leladi. Kowé aja tumindak kaya-kaya ngwasani Pasamuwan reksanmu, nanging dadia tuladha tumrap pepanthan iku.”**

Pendhita masrahaken Pinisepuh (tuwin Diaken ) ingkang nembé katetepanken kalenggahanipun dhateng Pasamuwan.

Pasamuwan ing kinasihan,
Pinisepuh (tuwin Diaken) ingkang nembé katetepaken ing kalenggahanipun menika katampia dados pemimpin Panjenengan sarta nindakaken peladosaning Pasamuwan. Awit saking menika katresnana, kabiyantua ing pandonga, daya lan dana, supados saged nindakaken kuwajiban kanthi saé sarta tanggel jawab, supados asmanipun Gusti Allah kaluhuraken sarta Pasamuwanipun kabangun.

Pendhita masrahaken serat tetepaning Pinisepuh (tuwin Diaken)***.

Pendhita ngaturi Pinisepuh (tuwin Diaken) enggal lenggah ing papan ingkang sampun kacawisaken.,

*     Penandatanganan PPA-GKJ saged katindakaken ing sanjawining pangibadah (wonten ing parepatan pradhata).
**   1 Petrus 5:2-3
*** Saged katindakaken ing sanjawining pangibadah.


Sunday, July 28, 2019

Kirmizi (Gluga) lan Pangapunten

Firman  : Yesaya 1:18

Tembung Kirmizi sumebar ing saperangan ayat-ayat kitab Suci. Satunggaling ayat sesambetan kaliyan kirmizi saged kapanggihaken wonten ing Kitab Yesaya 1:18 “Ayo, kita padha prakaran! – mangkono pangandikane Sang Yehuwah – sanadyan dosanira abang kaya gluga, bakal dadi putih kaya salju; sanadyan rupane abang kaya jarit sumba bakal pdha dadi putih kaya wulu wedhus gembel.”
Dening LAI tembung kirmizi dipungantos kanthi tembung gluga, sejatosipun menawi dipun artosaken sacara harapiah punika aslinipun benten. Tembung kirmizi ing bahasa ibrani punika shani. Tembung shani kasambetaken kaliyan satunggaling uler (coccus ilicis). Biasanipun nalika uler punika ngendhog, endhogipun dipunpapanaken ing kulit uwit lan uleripun njagi endhogipun ing sandhingipun. Nalika endhog punika netes lajeng anakipun uler punika nedha badhanipun embogipun (uler), tundhonipun badan ingkang katedha kalawau medal getihipun ingkang werni abrit ingkang nemplek ing kulit uwit kalawau. Kulit ingkang kenging getihipun uler ingkang werni abrit kalawau lajeng kaginakaken kangge maringi werni kain. Dene menawi gluga (Bausastra) punika sesambetan kaliyan satunggaling tetuwuhan sing kena dienggo cet abang.  Senajan sacara lairiah asalipun benten ananging sami ngedalaken werni abrit (abang sumringah). LAI ngginakaken tembung gluga punika supados kita saged nggambaraken gegambaran ingkang dipunwakili saking tembung kirmizi.
Lajeng kenging punapa Gusti Allah nyambetaken kirmizi (gluga) punika kaliyan dosa? Amargi dosa punika tumindak ingkang badhe tansah tuwuh ing gesanging manungsa, wanteg lan angel dipunicali ing gesanging manungsa. Kadosdene menawi kain sampun kawenter dening kulit kirmizi (gluga), angel dipun wangsulaken dados pethak malih. Gegambaran punika ngengetaken dhateng kita, kanthi jujur kedah kita akeni bilih kadangkala senajan sampun dados umatipun Gusti, taksih nglairaken tetembungan lan nedahaken tumindak ingkang njalari lairing dosa. Tumindak dosa angel ical saking gesanging manungsa.
Namung kanthi pangandika ingkang kaparingaken dhateng bangsa Israel nalika semanten, kita sami kangetaken malih 2 perkawis bilih:
1.       Gusti Allah kuwaos lan pirsa sedaya tumindaking manungsa. Panjenenganipun kuwaos mulihaken kawontenanipun manungsa dosa dados suci malih. Panguwaosing dosa punika ageng ing gesanging manungsa. Senajan sampun nampi Gusti Allah, senajan saben wekdal ngibadah, senajan makempal lan nindakaken ayahaning peladosan, dosa saged maujud ing tumindak-tumindak ingkang kabungkus karohanen, kadosdene ingkang kelampahan ing jaman Yesaya punika. Mila Panjenenganipun ngandika   Ayo, kita padha prakaran!.....” Tembung punika ngengetaken supados umat Israel kelebet kita sakpunika sampun ngantos dhumawah ing dosa ing salebeting nindakaken ayahan peladosan punapa dene gesang ing karohanen. Mboten namung tumindak ala kemawon, ananging ugi ing tumindak sae ingkang alandhesan kangge kauntungan lan karemenan diri pribadi mboten murni kagem kamulyanipun Gusti. Panjenenganipun kuwaos mulihaken kawontenan ingkang mekaten.
2.       Gusti Allah Welas Asih. Pangandika ing ayat punika ugi ngengetaken welas asihipun Gusti ing bab pangapunten. Senajan asring manungsa angel gesang ing kasucening Allah, ananging panjenenganipun punika Allah ingkang welas asih ingkang badhe tansah ngengetaken lan maringi kanugrahanipun ing gesanging manungsa.

Kalih perkawis punika pancen elok lan agung tumrap gesang kita, awit saestu kawujudaken ing gesangipun Israel nalika semanten lan dhateng kita lumantar pangurbananipun Gusti Yesus ing wekdal samangke. Temtunipun perkawis ingkang elok lan agung punika mboten namung kita mangertosi ananging ugi kedah kita wujudaken ing gesang padintenan. Punapa ingkang kedah kita wujudaken ing gesang padintenan?
Ing Kitab Yesaya 1:16-17 paring pangandika : “padha wisuha, resikana awakira, edohna panggawenira kang ala saka ing ngarsane paningalingSun. Marenana anggonira gawe piala, padha sinaua gawe becik ngudia marang kaadilan, ngendhalenana wong kang ambek siya; mbelanana hake para bocah lola, ngembanana prakarane para randha!. “
Gusti kuwaos lan welas asih dhateng kita, Welas asihipun sampun kebabar lumantar pangurbananipun Gusti Yesus. Lumantar punika kita sampun kasucekaken, ananging kita ugi mboten pareng wangsul malih nindakaken perkawis-perkawis ingkang nyulayani kersanipun Gusti mila kita ugi mbudidaya supados kita gesang manut kersanipun Gusti. Amin.

Sunday, May 26, 2019

AJA MELANG-MELANG


YOKANAN 14:1-6

Melang-melang utawi sumelang (kuwatir) satunggaling raos ingkang kadangkala jumedul ing pangangen-angening manungsa. Raos melang-melang biasanipun jumedul amargi kita ngangen-angen perkawis ingkang dereng cetha lan ingkang badhe kelampahan nanging sampun nampi kabaripun sakpunika. Umpaminipun sumelang menawi mboten lulus ujian, sumelang menawi sakitipun mboten saged saras malih, sumelang menawi Indonesia bubrah, lsp.
Punapa jalaranipun tuwuh raos sumelang? Asring kita mirengaken tembung amargi “gawan bayi”, wiwit alit sampun nedahaken raos sumelang;wonten ingkang amargi tansah mboten nyakin dhateng dirinipun piyambak, wonten ingkang amargi kirang persiapan (pecawisan), wonten ingkang amargi asring “kebentus-kebentus” perkawis lajeng tuwuh pitakenan, “lha nek ngene terus sesuk banjur kepriye….”; lsp.
Kanthi mekaten kita kedah ngrumaosi lan ngakeni bilih raos sumelang utawi melang-melang punika peranganing gesang kita, ingkang baken kadospundhi caranipun supados raos melang-melang mboten jalari kita kepambeng lan lajeng mboten pitados dhateng pangrimat lan prasetyanipun Gusti.
Gusti Yesus paring pangandika (ayat 1) “Atimu aja melang-melang; padha kumandela ing Allah, iya kumandela ing Aku uga” kanthi pangandika mekaten, kita saged mangertos punapa ingkang dipungalih lan werdining pangandikanipun Gusti Yesus dhateng para murid nalika semanten. Para murid sami tuwuh raos sumelang amargi Gusti Yesus badhe nilar para murid, malah Gusti Yesus mboten kanthi gamblang ngandikakaken wonten ing pundhi papanipun panjenenganipun nilar para murid (ayat 36-38). Gusti Yesus ugi pirsa punapa ingkang badhe dipun adhepi dening para murid nalika nindakaken pakaryanipun Gusti dhateng jagad. Mila Panjenenganipun ngandika “Atimu aja melang-melang…..”  Gusti Yesus dhawuh supados sampun ngantos sumelang ananging ingkang perlu katindakaken namung setunggal inggih punika ”kumandela ing Allah, iya kumandela ing Aku uga”
Kinten-kinten punapa kanthi kumandhel dhateng Gusti Allah lan dhateng Gusti Yesus punika sampun cekap? Tumrap tiyang ingkang saestu pitados lan mitadosaken gesangipun dhateng Gusti Yesus minangka Juruwilujengipun, kedahipun sampun cekap, kenging punapa mekaten?
Amargi Gusti Yesus sampun ngandikakaken ing ayat salajengipun, inggih punika, ingkang sepisan, Gusti Allah ingkang sinebat Rama dening Gusti Yesus punika Rama ingkang kagungan papan ingkang dados papan pungkasaning gesang saben tiyang pitados. Papan ingkang Sang Rama piyambak mranata ing gesang kalanggengan (kados ingkang kaserat ing Kitab Wahyu 4:3, 9). Saestu namung  Gusti Allah ingkang sinebat Rama ingkang kagungan panguwaos ing jagad punika lan gesang kalanggengan.
 Ingkang kaping kalih, kados ingkang sinerat ing ayat 6 “….Aku iki dalane, sarta jatine kayekten lan  kauripan. Ora ono wong siji-sijia kang bisa sowan marang Sang Rama, Manawa ora metu ing Aku” Wangsulan punika wiwitanipun kapangandikakaken dhateng Thomas, ingkang nyuwun pirsa dhateng Gusti Yesus marginipun tumuju ing Sang Rama. Menawi wonten ingkang taken dhateng kita : “menawi badhe teng kitha Sragen….marginipun pundhi nggih?” Mesthi kita badhe mangsuli: panjenengan lewat joglo rumiyin lajeng saged nganan medal gemolong utawi lurus medhal mojosongo…..”
Ananging Gusti Yesus mboten mekaten, Panjenenganipun mboten maringi pitedah miturut pitedahipun manungsa, ananging panjenenganipun ngandikaken; ngetut-a Aku, Aku ngerti dalane, amarga ya Aku iki dalane; menawa kowe tetep percaya lan ora mlaku neng dalanmu dhewe nanging mlaku ing pitedahKu mesthi tekan daleme Sang Rama. Kanthi tembung sanes, sedaya ingkang sampun katedahaken lumantar tuladhanipun, piwulangipun lan pakaryan kawilujengan ingkang katindakaken ngantos seda sinalib punika marginipun tiyang pitados tumuju Sang Rama. Kita sami kasuwun sami nuladha lan nindakaken dhawuhipun Gusti minangka margi dhateng daleme Sang Rama.
Mila saben umat kagunganipun Gusti Yesus kedah saged nedahaken pitadosipun kanthi tegen mboten gampil kablidug ing panggodhaning jagad supados mboten gampil melang-melang, semanten ugi kedah saged nulad lan nindakaken sedaya pakaryanipun Gusti supados gesang ing kayekten lan nampi makthunaning gesang.
Sesambetan kaliyan timbalanipun Gusti marek ing mejaning pambujanan, kita sami mboten namung bab nedha sesarengan lan mengeti pangurbananipun Gusti, ananging ugi ngiyataken manah kita saha gesang miturut marginipun Gusti Yesus. Nuladha sedaya ingkang sampun katindakaken dening Panjenenganipun dhateng kita.
Awit saking punika sumangga, nalika wekdal cecawis punapa dene saksampunipun nampi Sakramen Bujono, kita sami nedahaken gesang ingkang manteb ing pitados lan miturut kersanipun Gusti. Temah kita tansah ngraosaken manah ingkang ayem (mboten melang-melang) lan ing tembenipun gesang sesarengan kaliyan Sang Rama ing Suwarga. Amin.