Bagian I: Jalan Sang Biarawan (1483–1517)
Bab 1: Masa Kecil dan Ambisi
Sang Ayah
Kisah ini dimulai di Eisleben,
Sachsen, Kekaisaran Romawi Suci, pada tanggal 10 November 1483, dengan lahirnya
Martin Luther. Ayahnya, Hans Luther, adalah seorang pria ambisius yang bekerja
keras sebagai penambang tembaga dan berhasil meraih kemakmuran kelas menengah.
Hans bertekad bahwa putranya tidak akan mengikuti jejaknya yang keras; Martin
harus menjadi seorang pengacara terkemuka.
Maka, masa kecil Martin diisi
dengan disiplin yang ketat dan fokus pada pendidikan. Ia dikirim ke sekolah
Latin di Mansfeld dan kemudian ke Magdeburg. Pendidikan pada masa itu keras,
namun Martin menunjukkan kecerdasan yang tajam. Pada usia 17 tahun, ia masuk ke
Universitas Erfurt, sebuah institusi bergengsi, dan dengan cepat menyelesaikan
studinya, memperoleh gelar Master of Art pada tahun 1505—sebuah kebanggaan
besar bagi Hans.
Bab 2: Sumpah di Tengah Badai
Sesuai rencana ayahnya, Martin
memulai studi hukum, namun takdir memiliki rencana lain. Pada musim panas 1505,
saat Martin sedang dalam perjalanan kembali ke kampus, badai petir yang hebat
tiba-tiba meletus. Petir menyambar sangat dekat dengannya. Dalam ketakutan yang
mencekam akan kematian dan penghakiman abadi—suatu obsesi teologis di Abad
Pertengahan—Martin berseru, "Tolonglah, Santa Anna! Aku akan menjadi
biarawan!"
Keputusan ini mengejutkan semua
orang, terutama ayahnya, yang marah besar karena rencana hidup yang telah ia
susun dengan susah payah dihancurkan oleh sumpah yang tergesa-gesa. Namun,
Martin berpegang pada sumpahnya. Dalam waktu dua minggu, ia menjual buku-buku
hukumnya dan memasuki biara Augustinian yang ketat di Erfurt.
Bab 3: Pergulatan di Biara dan
Pencerahan
Di dalam biara, Martin Luther
menjadi biarawan yang sangat taat. Ia melakukan puasa yang ekstrem, tidur di
lantai dingin, dan menghabiskan berjam-jam dalam pengakuan dosa—kadang-kadang
sampai enam jam sehari—tetapi ia tetap tidak menemukan kedamaian. Semakin keras
ia berusaha menyenangkan Tuhan, semakin besar rasa takutnya akan murka Tuhan.
Ia merasa, "Aku mengasihi Allah... Aku membenci Allah yang benar yang
menghukum orang berdosa!"
Untungnya, atasannya, Johann von
Staupitz, mengenali kecerdasan dan pergulatan rohani Luther. Staupitz menyuruh
Luther untuk tidak terlalu banyak introspeksi, tetapi fokus pada salib, dan
yang terpenting, mendorongnya untuk belajar dan mengajar teologi.
Pada tahun 1512, Luther memperoleh
gelar Doktor Teologi dan diangkat menjadi profesor di Universitas Wittenberg.
Saat ia mempersiapkan kuliah tentang Surat Roma, terutama Roma 1:17,
("Orang benar akan hidup oleh iman"), pencerahan besar (dikenal
sebagai Turmerlebnis atau Pengalaman Menara) menyambar jiwanya,
sedahsyat petir yang mengubah hidupnya.
Luther menyadari bahwa "Kebenaran
Allah" bukanlah keadilan yang menuntut hukuman, tetapi kebenaran yang dianugerahkan
kepada orang percaya sebagai hadiah gratis. Ia akhirnya memahami prinsip sola
fide (hanya oleh iman): manusia diselamatkan bukan karena perbuatan
baik, tetapi hanya karena anugerah Tuhan yang diterima melalui iman kepada
Kristus.
"Aku merasa diriku
benar-benar terlahir kembali dan telah memasuki surga itu sendiri melalui pintu
yang terbuka lebar." — Martin Luther
Pencerahan ini menjadi bahan
peledak yang menunggunya menemukan sumbunya.
Bagian II: Api di Wittenberg
dan Badai di Eropa (1517–1525)
Bab 4: 95 Tesis: Awal Mula
Revolusi
Sumbu ledakan itu datang dalam
bentuk indulgensi. Seorang biarawan Dominikan bernama Johann Tetzel
berkeliling Jerman, menjual "surat pengampunan dosa" untuk
mengumpulkan dana pembangunan Basilika Santo Petrus di Roma. Tetzel menjanjikan
kebebasan dari hukuman dosa—bahkan ada yang mengatakan, “Segera setelah koin
di peti berdering, jiwa dari api penyucian melompat.”
Bagi Luther, yang baru saja
menemukan kebebasan di dalam anugerah, praktik ini adalah penyesatan teologis
dan eksploitasi yang keji. Pada 31 Oktober 1517, Luther melancarkan
protes. Ia menyusun 95 Dalil (Tesis), sebuah undangan akademik untuk
berdebat mengenai praktik dan efektivitas indulgensi. Tesis ke-86 menantang
langsung Paus: "Mengapa Paus, yang kekayaannya saat ini lebih besar
daripada kekayaan Crassus yang terkaya, membangun Basilika Santo Petrus dengan
uang orang-orang percaya yang miskin?"
Berkat mesin cetak, yang kala itu
merupakan teknologi revolusioner, salinan Tesis itu menyebar dalam hitungan
minggu ke seluruh Jerman dan dalam hitungan bulan ke seluruh Eropa. Apa yang
dimaksudkan sebagai diskusi lokal berubah menjadi seruan revolusi yang tidak
dapat dibungkam.
Bab 5: Konflik dengan
Kekaisaran
Tiga tahun berikutnya adalah
periode penulisan yang produktif bagi Luther. Ia menegaskan prinsip-prinsip
Reformasi:
- Sola Scriptura (Hanya Alkitab):
Alkitab adalah satu-satunya sumber otoritas keagamaan.
- Sola Fide (Hanya Iman): Keselamatan
hanya melalui iman.
- Sola Gratia (Hanya Anugerah):
Keselamatan adalah karunia cuma-cuma dari Tuhan.
- Keimaman Semua Orang Percaya: Setiap orang
Kristen memiliki akses langsung kepada Tuhan tanpa memerlukan perantara
klerus.
Paus Leo X tidak tinggal diam.
Pada tahun 1520, ia mengeluarkan bula kepausan yang mengancam Luther dengan
ekskomunikasi jika ia tidak menarik kembali ajarannya. Sebagai respons, Luther
secara terbuka membakar bula tersebut di luar gerbang Wittenberg. Ekskomunikasi
pun dikeluarkan pada tahun 1521.
Bab 6: Sidang Worms dan
Persembunyian
Konflik memuncak di Sidang
Worms (1521), di mana Luther dipanggil ke hadapan Kaisar Karl V dan para
penguasa gereja dan negara. Ia diminta untuk menarik kembali ajarannya. Luther
meminta waktu sehari untuk mempertimbangkan, dan keesokan harinya ia
menyampaikan salah satu pidato paling berani dalam sejarah.
Ia menolak mencabut ajarannya
kecuali ia diyakinkan oleh Kitab Suci. Ia mengakhiri dengan kalimat yang
menjadi legenda:
"Saya tidak bisa dan
tidak akan mencabut apa pun, karena bertindak melawan hati nurani tidaklah
aman, juga tidak benar. Di sini saya berdiri; saya tidak bisa melakukan yang
lain. Tuhan menolong saya. Amin."
Kaisar menyatakan Luther sebagai
penjahat kekaisaran. Namun, dalam perjalanan pulang, Luther "diculik"
oleh sekelompok ksatria. Penculikan ini diatur oleh pelindungnya, Frederick
III, Pangeran Elektor Sachsen. Luther dibawa ke Kastil Wartburg,
tempat ia hidup menyamar sebagai "Junker Jörg" (Ksatria
George).
Selama di Wartburg, Luther
melakukan pekerjaan monumental: ia menerjemahkan Perjanjian Baru dari bahasa
Yunani ke dalam bahasa Jerman dalam waktu hanya sebelas minggu. Terjemahan
ini—kemudian disempurnakan menjadi seluruh Alkitab pada tahun 1534—membuat
Kitab Suci dapat diakses oleh rakyat jelata, secara radikal memberdayakan umat,
dan menetapkan fondasi bagi bahasa Jerman modern.
Bagian III: Reformasi Keluarga
dan Warisan (1525–1546)
Bab 7: Hidup Berkeluarga
Pada tahun 1525, Martin Luther,
seorang mantan biarawan, menikahi Katharina von Bora, seorang mantan
biarawati. Pernikahan ini bukan hanya tindakan pribadi, tetapi sebuah deklarasi
teologis yang berani yang menolak selibat wajib bagi klerus. Mereka mendirikan
rumah tangga di biara tua Augustinian di Wittenberg dan dikenal karena
kehidupan keluarga mereka yang hangat dan penuh kasih.
Mereka dikaruniai enam anak: Hans,
Elisabeth, Magdalena, Martin, Paul, dan Margarethe. Luther sangat menyayangi
anak-anaknya. Kisah pernikahannya dengan "Katy" memberikan model baru
bagi kehidupan pastoral dalam tradisi Protestan.
Bab 8: Karya Tulis dan
Kontribusi pada Pendidikan
Setelah Reformasi stabil, Luther
memfokuskan energinya untuk membangun gereja Protestan. Ia menulis secara luas
untuk mengajar dan melatih jemaat:
- Katekismus Kecil (1529): Karya terpenting
Luther setelah Alkitab. Ini adalah manual ringkas yang mengajarkan dasar-dasar
iman—Sepuluh Perintah, Kredo, Doa Bapa Kami, dan Sakramen—dirancang untuk
keluarga dan anak-anak.
- Katekismus Besar (1529): Penjelasan yang
lebih rinci, ditujukan untuk para pendeta.
- Memajukan Pendidikan: Luther adalah seorang
pendukung kuat pendidikan universal, percaya bahwa semua orang, baik pria
maupun wanita, harus bisa membaca untuk mempelajari Alkitab. Ia menyerukan
pembangunan sekolah-sekolah Kristen.
Bab 9: Warisan Musik: Himne
Luther
Luther percaya bahwa musik adalah
"pemberian indah dari Tuhan" dan merupakan alat yang ampuh untuk
mengajar teologi. Ia berupaya mengembalikan nyanyian ke dalam ibadah jemaat,
yang sebelumnya didominasi oleh paduan suara klerus berbahasa Latin. Ia tidak
hanya menulis lirik, tetapi juga mengubah lagu-lagu Latin kuno atau melodi
populer menjadi himne jemaat dalam bahasa Jerman.
Luther menulis sekitar 37 himne.
Yang paling terkenal adalah:
Ein' feste Burg ist unser
Gott (Allah Kita Pelindung yang Teguh)
- Latar Belakang: Berdasarkan Mazmur 46.
- Signifikansi: Dikenal sebagai "Mars
Reformasi", lagu ini adalah deklarasi iman yang militan dan kuat,
menegaskan bahwa Tuhan adalah benteng yang kokoh melawan segala kuasa
jahat. Liriknya menjadi seruan pertempuran bagi para pengikut Reformasi di
seluruh Eropa.
Vom Himmel hoch, da komm
ich her (Dari Surga Tinggi, Aku Datang)
- Signifikansi: Awalnya ditulis untuk
anak-anaknya, himne Natal yang hangat ini bercerita tentang kabar baik
kedatangan Kristus.
Bab 10: Akhir Sang Reformator
Tahun-tahun terakhir Luther
dihabiskan untuk mengajar, menulis polemik, dan bergumul dengan penyakit.
Kesehatannya menurun drastis akibat berbagai penyakit, termasuk masalah jantung
dan pencernaan.
Meskipun kesehatannya buruk, ia
melakukan perjalanan terakhirnya ke kota kelahirannya, Eisleben, untuk
menengahi perselisihan keluarga para bangsawan Mansfeld. Di sana, dikelilingi
oleh sahabat-sahabat lamanya, Martin Luther meninggal dengan damai pada 18
Februari 1546, pada usia 62 tahun.
Kata-kata terakhirnya yang
tercatat menegaskan keyakinan hidupnya: "Kami adalah pengemis. Itu
benar." Sebuah pengakuan sederhana bahwa semua yang ia miliki,
termasuk keselamatannya, adalah anugerah murni dari Tuhan.
Epilog
Martin Luther meninggalkan
warisan yang monumental. Ia memecahkan monopoli Gereja Katolik Roma atas iman,
meletakkan Kitab Suci di tangan rakyat jelata, memberikan lagu untuk
dinyanyikan umat, dan mendirikan fondasi teologis bagi Protestantisme. Luther adalah
api yang menyala di Wittenberg, yang cahayanya masih membentuk dunia modern.

No comments:
Post a Comment