Thursday, October 23, 2025

Api Reformasi: Kisah Hidup Martin Luther

Bagian I: Jalan Sang Biarawan (1483–1517)

Bab 1: Masa Kecil dan Ambisi Sang Ayah

Kisah ini dimulai di Eisleben, Sachsen, Kekaisaran Romawi Suci, pada tanggal 10 November 1483, dengan lahirnya Martin Luther. Ayahnya, Hans Luther, adalah seorang pria ambisius yang bekerja keras sebagai penambang tembaga dan berhasil meraih kemakmuran kelas menengah. Hans bertekad bahwa putranya tidak akan mengikuti jejaknya yang keras; Martin harus menjadi seorang pengacara terkemuka.

Maka, masa kecil Martin diisi dengan disiplin yang ketat dan fokus pada pendidikan. Ia dikirim ke sekolah Latin di Mansfeld dan kemudian ke Magdeburg. Pendidikan pada masa itu keras, namun Martin menunjukkan kecerdasan yang tajam. Pada usia 17 tahun, ia masuk ke Universitas Erfurt, sebuah institusi bergengsi, dan dengan cepat menyelesaikan studinya, memperoleh gelar Master of Art pada tahun 1505—sebuah kebanggaan besar bagi Hans.

Bab 2: Sumpah di Tengah Badai

Sesuai rencana ayahnya, Martin memulai studi hukum, namun takdir memiliki rencana lain. Pada musim panas 1505, saat Martin sedang dalam perjalanan kembali ke kampus, badai petir yang hebat tiba-tiba meletus. Petir menyambar sangat dekat dengannya. Dalam ketakutan yang mencekam akan kematian dan penghakiman abadi—suatu obsesi teologis di Abad Pertengahan—Martin berseru, "Tolonglah, Santa Anna! Aku akan menjadi biarawan!"

Keputusan ini mengejutkan semua orang, terutama ayahnya, yang marah besar karena rencana hidup yang telah ia susun dengan susah payah dihancurkan oleh sumpah yang tergesa-gesa. Namun, Martin berpegang pada sumpahnya. Dalam waktu dua minggu, ia menjual buku-buku hukumnya dan memasuki biara Augustinian yang ketat di Erfurt.

Bab 3: Pergulatan di Biara dan Pencerahan

Di dalam biara, Martin Luther menjadi biarawan yang sangat taat. Ia melakukan puasa yang ekstrem, tidur di lantai dingin, dan menghabiskan berjam-jam dalam pengakuan dosa—kadang-kadang sampai enam jam sehari—tetapi ia tetap tidak menemukan kedamaian. Semakin keras ia berusaha menyenangkan Tuhan, semakin besar rasa takutnya akan murka Tuhan. Ia merasa, "Aku mengasihi Allah... Aku membenci Allah yang benar yang menghukum orang berdosa!"

Untungnya, atasannya, Johann von Staupitz, mengenali kecerdasan dan pergulatan rohani Luther. Staupitz menyuruh Luther untuk tidak terlalu banyak introspeksi, tetapi fokus pada salib, dan yang terpenting, mendorongnya untuk belajar dan mengajar teologi.

Pada tahun 1512, Luther memperoleh gelar Doktor Teologi dan diangkat menjadi profesor di Universitas Wittenberg. Saat ia mempersiapkan kuliah tentang Surat Roma, terutama Roma 1:17, ("Orang benar akan hidup oleh iman"), pencerahan besar (dikenal sebagai Turmerlebnis atau Pengalaman Menara) menyambar jiwanya, sedahsyat petir yang mengubah hidupnya.

Luther menyadari bahwa "Kebenaran Allah" bukanlah keadilan yang menuntut hukuman, tetapi kebenaran yang dianugerahkan kepada orang percaya sebagai hadiah gratis. Ia akhirnya memahami prinsip sola fide (hanya oleh iman): manusia diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi hanya karena anugerah Tuhan yang diterima melalui iman kepada Kristus.

"Aku merasa diriku benar-benar terlahir kembali dan telah memasuki surga itu sendiri melalui pintu yang terbuka lebar." — Martin Luther

Pencerahan ini menjadi bahan peledak yang menunggunya menemukan sumbunya.

Bagian II: Api di Wittenberg dan Badai di Eropa (1517–1525)

Bab 4: 95 Tesis: Awal Mula Revolusi

Sumbu ledakan itu datang dalam bentuk indulgensi. Seorang biarawan Dominikan bernama Johann Tetzel berkeliling Jerman, menjual "surat pengampunan dosa" untuk mengumpulkan dana pembangunan Basilika Santo Petrus di Roma. Tetzel menjanjikan kebebasan dari hukuman dosa—bahkan ada yang mengatakan, “Segera setelah koin di peti berdering, jiwa dari api penyucian melompat.”

Bagi Luther, yang baru saja menemukan kebebasan di dalam anugerah, praktik ini adalah penyesatan teologis dan eksploitasi yang keji. Pada 31 Oktober 1517, Luther melancarkan protes. Ia menyusun 95 Dalil (Tesis), sebuah undangan akademik untuk berdebat mengenai praktik dan efektivitas indulgensi. Tesis ke-86 menantang langsung Paus: "Mengapa Paus, yang kekayaannya saat ini lebih besar daripada kekayaan Crassus yang terkaya, membangun Basilika Santo Petrus dengan uang orang-orang percaya yang miskin?"

Berkat mesin cetak, yang kala itu merupakan teknologi revolusioner, salinan Tesis itu menyebar dalam hitungan minggu ke seluruh Jerman dan dalam hitungan bulan ke seluruh Eropa. Apa yang dimaksudkan sebagai diskusi lokal berubah menjadi seruan revolusi yang tidak dapat dibungkam.

Bab 5: Konflik dengan Kekaisaran

Tiga tahun berikutnya adalah periode penulisan yang produktif bagi Luther. Ia menegaskan prinsip-prinsip Reformasi:

  • Sola Scriptura (Hanya Alkitab): Alkitab adalah satu-satunya sumber otoritas keagamaan.
  • Sola Fide (Hanya Iman): Keselamatan hanya melalui iman.
  • Sola Gratia (Hanya Anugerah): Keselamatan adalah karunia cuma-cuma dari Tuhan.
  • Keimaman Semua Orang Percaya: Setiap orang Kristen memiliki akses langsung kepada Tuhan tanpa memerlukan perantara klerus.

Paus Leo X tidak tinggal diam. Pada tahun 1520, ia mengeluarkan bula kepausan yang mengancam Luther dengan ekskomunikasi jika ia tidak menarik kembali ajarannya. Sebagai respons, Luther secara terbuka membakar bula tersebut di luar gerbang Wittenberg. Ekskomunikasi pun dikeluarkan pada tahun 1521.

Bab 6: Sidang Worms dan Persembunyian

Konflik memuncak di Sidang Worms (1521), di mana Luther dipanggil ke hadapan Kaisar Karl V dan para penguasa gereja dan negara. Ia diminta untuk menarik kembali ajarannya. Luther meminta waktu sehari untuk mempertimbangkan, dan keesokan harinya ia menyampaikan salah satu pidato paling berani dalam sejarah.

Ia menolak mencabut ajarannya kecuali ia diyakinkan oleh Kitab Suci. Ia mengakhiri dengan kalimat yang menjadi legenda:

"Saya tidak bisa dan tidak akan mencabut apa pun, karena bertindak melawan hati nurani tidaklah aman, juga tidak benar. Di sini saya berdiri; saya tidak bisa melakukan yang lain. Tuhan menolong saya. Amin."

Kaisar menyatakan Luther sebagai penjahat kekaisaran. Namun, dalam perjalanan pulang, Luther "diculik" oleh sekelompok ksatria. Penculikan ini diatur oleh pelindungnya, Frederick III, Pangeran Elektor Sachsen. Luther dibawa ke Kastil Wartburg, tempat ia hidup menyamar sebagai "Junker Jörg" (Ksatria George).

Selama di Wartburg, Luther melakukan pekerjaan monumental: ia menerjemahkan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Jerman dalam waktu hanya sebelas minggu. Terjemahan ini—kemudian disempurnakan menjadi seluruh Alkitab pada tahun 1534—membuat Kitab Suci dapat diakses oleh rakyat jelata, secara radikal memberdayakan umat, dan menetapkan fondasi bagi bahasa Jerman modern.

Bagian III: Reformasi Keluarga dan Warisan (1525–1546)

Bab 7: Hidup Berkeluarga

Pada tahun 1525, Martin Luther, seorang mantan biarawan, menikahi Katharina von Bora, seorang mantan biarawati. Pernikahan ini bukan hanya tindakan pribadi, tetapi sebuah deklarasi teologis yang berani yang menolak selibat wajib bagi klerus. Mereka mendirikan rumah tangga di biara tua Augustinian di Wittenberg dan dikenal karena kehidupan keluarga mereka yang hangat dan penuh kasih.

Mereka dikaruniai enam anak: Hans, Elisabeth, Magdalena, Martin, Paul, dan Margarethe. Luther sangat menyayangi anak-anaknya. Kisah pernikahannya dengan "Katy" memberikan model baru bagi kehidupan pastoral dalam tradisi Protestan.

Bab 8: Karya Tulis dan Kontribusi pada Pendidikan

Setelah Reformasi stabil, Luther memfokuskan energinya untuk membangun gereja Protestan. Ia menulis secara luas untuk mengajar dan melatih jemaat:

  1. Katekismus Kecil (1529): Karya terpenting Luther setelah Alkitab. Ini adalah manual ringkas yang mengajarkan dasar-dasar iman—Sepuluh Perintah, Kredo, Doa Bapa Kami, dan Sakramen—dirancang untuk keluarga dan anak-anak.
  2. Katekismus Besar (1529): Penjelasan yang lebih rinci, ditujukan untuk para pendeta.
  3. Memajukan Pendidikan: Luther adalah seorang pendukung kuat pendidikan universal, percaya bahwa semua orang, baik pria maupun wanita, harus bisa membaca untuk mempelajari Alkitab. Ia menyerukan pembangunan sekolah-sekolah Kristen.

Bab 9: Warisan Musik: Himne Luther

Luther percaya bahwa musik adalah "pemberian indah dari Tuhan" dan merupakan alat yang ampuh untuk mengajar teologi. Ia berupaya mengembalikan nyanyian ke dalam ibadah jemaat, yang sebelumnya didominasi oleh paduan suara klerus berbahasa Latin. Ia tidak hanya menulis lirik, tetapi juga mengubah lagu-lagu Latin kuno atau melodi populer menjadi himne jemaat dalam bahasa Jerman.

Luther menulis sekitar 37 himne. Yang paling terkenal adalah:

Ein' feste Burg ist unser Gott (Allah Kita Pelindung yang Teguh)

  • Latar Belakang: Berdasarkan Mazmur 46.
  • Signifikansi: Dikenal sebagai "Mars Reformasi", lagu ini adalah deklarasi iman yang militan dan kuat, menegaskan bahwa Tuhan adalah benteng yang kokoh melawan segala kuasa jahat. Liriknya menjadi seruan pertempuran bagi para pengikut Reformasi di seluruh Eropa.

Vom Himmel hoch, da komm ich her (Dari Surga Tinggi, Aku Datang)

  • Signifikansi: Awalnya ditulis untuk anak-anaknya, himne Natal yang hangat ini bercerita tentang kabar baik kedatangan Kristus.

Bab 10: Akhir Sang Reformator

Tahun-tahun terakhir Luther dihabiskan untuk mengajar, menulis polemik, dan bergumul dengan penyakit. Kesehatannya menurun drastis akibat berbagai penyakit, termasuk masalah jantung dan pencernaan.

Meskipun kesehatannya buruk, ia melakukan perjalanan terakhirnya ke kota kelahirannya, Eisleben, untuk menengahi perselisihan keluarga para bangsawan Mansfeld. Di sana, dikelilingi oleh sahabat-sahabat lamanya, Martin Luther meninggal dengan damai pada 18 Februari 1546, pada usia 62 tahun.

Kata-kata terakhirnya yang tercatat menegaskan keyakinan hidupnya: "Kami adalah pengemis. Itu benar." Sebuah pengakuan sederhana bahwa semua yang ia miliki, termasuk keselamatannya, adalah anugerah murni dari Tuhan.

Epilog

Martin Luther meninggalkan warisan yang monumental. Ia memecahkan monopoli Gereja Katolik Roma atas iman, meletakkan Kitab Suci di tangan rakyat jelata, memberikan lagu untuk dinyanyikan umat, dan mendirikan fondasi teologis bagi Protestantisme. Luther adalah api yang menyala di Wittenberg, yang cahayanya masih membentuk dunia modern.

 

No comments:

Post a Comment